Istanbul, Turki—udara pagi terasa lebih berat dari biasanya. Langit masih ditelan abu-abu, seolah kota itu tahu ada badai yang sedang dikumpulkan diam-diam oleh tangan-tangan yang tak terlihat. Di lantai tertinggi salah satu gedung tua di distrik Fatih, Varela duduk di kursi kulit hitam yang besar. Ruangan itu mahal, penuh koleksi buku berbahasa Latin yang tak pernah ia baca, tapi sengaja dipajang untuk menunjukkan wibawa. Cangkir kopi Turki mengepul di meja, namun aromanya tidak menunjukkan kenyamanan—justru mengabarkan hal buruk yang akan segera dilaporkan. Pintu diketuk dua kali. Asisten setianya, Melik, masuk dengan wajah tertarik tegang. “Tuan … kita punya masalah.” Varela menutup buku di hadapannya. “Masalah yang seperti apa?” Nada suaranya dingin, tak terburu-buru, namun cukup m

