Pernikahan

1032 Kata
Satu jam berlalu sejak para tamu undangan kembali, ruangan ballroom terasa semakin dingin karena hanya di isi oleh mereka berdua. Kapten Ryu tampak bergelut dengan pikirannya, sedangkan Pritha hanya mampu terus menunduk sambil menggulir ponselnya dan tak melihat apapun kecuali tatapan kosong. Sampai akhirnya sang kapten bangkit berdiri karena merasa semakin dingin. "Saya tahu ini akal-akalan istri saya. Dan saya tidak tahu berapa banyak yang kamu dapatkan dari istri saya. Tapi, jangan bermimpi terlalu berlebihan tentang saya. Saya melakukan ini hanya karena tidak ingin mengecewakan istri saya." Tegas sang kapten akhirnya dan seketika Pritha mengangguk paham. "Saya paham, Pak." Ucapnya setengah berbisik, suaranya terasa serak bahkan terlihat menghilang seperti harapan kebahagiaan yang meredup darinya. "Kalau paham, saya harap kamu tidak menyebarkan tentang pernikahan ini. Cukup orang-orang yang tadi di siapkaan oleh istri saya yang tahu. Karena istri saya juga bisa menjamin orang-orang tadi tidak akna membocorkan pernikahan ini." Tegasnya lagi. "Baik, Pak." "Karena istri saya sudah menyiapkan kamar, jadi, ayo kita kesana." Ajaknya dan lagi-lagi Pritha hanya mengangguk dan menjawab singkat dengan sopan. "Baik, Pak." Tegasnya lagi dan dia bangkit berdiri, meski kakinya terasa gontai. Ryuga melangkah dengan di iringi Pritha di belakangnya, sampai mereka masuk ke dalam kamar hotel yang sudah di design selayaknya kamar pengantin. Semua serba mewah dan berkelas. "Tidurlah! Saya akan ambil kamar satu lagi." Tegas sang kapten lagi lalu dia berbalik badan dan akan meninggalkan kamar. "Pak. Saya tahu, bapak tidak bersedia menikah dengan wanita seperti saya. Saya juga memaklumi hal itu. Tapi, bisakah malam ini bapak tetap di sini, saya akan tidur di sofa." Tegas Pritha lagi dan dia langsung melangkah ke arah sofa empuk di depan tv besar di dalam kamar itu. Kapten Ryuga tampak tersenyum sinis. "Kenapa? Kalian membuat perjanjian bahwa malam ini harus ada malam pertama begitu?" Tandasnya, dan kalimat itu sebenarnya melukai hati Pritha, tapi wanita itu memilih diam dan langsung merebahakn badan ke sofa empuk dan mentup mata. "Saya tidak biasa, satu kamar dengan wanita lain selain istri saya." Ucapnya lagi. "Anggap saja saya tidak ada di sini, Pak. Saya juga akna berusaha untuk tidak bersuara sama sekali..." tegas Pritha lagi. "Kenapa kamu tidak menolak permintaan istri saya? Kalau kamu menolak harusnya pernikahan ini tidak akan pernah terjadi, dan nama saya tidak akan tercemar." Tegas kapten Ryuga lagi. Dan... Deg! Seketika jantung Pritha seperti ada batu yang membebani mendengar bahwa menikah dengannya membuat nama pria itu tercemar. Padahal yang dia tahu selama ini, sang majikan itu sangat baik dan perhatian. "Kamu pikir, karnea selama ini saya baik ke kamu, trus kamu berharap bisa menjadi ibu dari anak saya, begitu?!" Tegas Ryuga lagi tapi, lagi-lagi Pritha hanya diam dan menahan bulir bening yang nyaris tak lagi kuat untuk dia bendung. "Kamu jangan diam aja?!" Sang kapten tampak kesal, hingga akhirnya dia melangkah menuju ke arah pintu. "Bapak mau kemana?" Tanya Pritha lagi. "Cari angin!"ketusnya dan langsung menutup pintu dengan keras, dia terus melangkah menuju lift dan menekan ke tombol bacaan night club. Ya, night club di hotel itu juga lumayan sering dia datangi. Ryuga tampak duduk dan langsung mencekoki bibirnya dengan alkohol, tampak kekeceaan yang menumpuk di hatinya. Dia sama sekali tidak menyangka sang istri bisa berbuat sejauh ini padanya, dan menganggap pernikahan hanyalah sebuah permainan yang bisa dia buat dan hentikan kapan saja. Tumpukan kekesalannya membuatnya bersikap kasar pada Pritha sang pengasuh ibunya yang kini menjadi istri sirinya. Waktu terus berlalu sampai seoarng petugas mengingatkan sang kapten jika night club akan tutup karena sudah hampir subuh. Dengan langkah sempoyongan Ryuga di bantu petugas hotel melangkah menuruni lift menuju ke kamar pengantinnya. Tok! Tok! Tok! Tangannya menggedor kamar itu hingga di bantu oleh sang petugas hotel yang mengetuk lebih halus, hingga Pritha dengan mata setengah terbuka melangkah menuju pintu membuka pintu. Sontak dia menutup hidungnya karena aroma alkohol menyengat. "Terimakasih, Mas..." ucap Pritha dengan tersenyum manis ke arah sang petugas hotel. "Sama-sama, Bu..." Dengan tertatih dia menuntun sang suami dan membawanya ke atas ranjang. "Heh! Jangan coba-coba sentuh saya! Saya bukan pria murahan yang bisa di sentuh oleh wanita sembarangan!" Hardik Ryuga dengan suara yang nyaris tak jelas. Setelah merebahkan tubuhnya, Pritha membuka sepatu dan kaos kaki pria itu lalu membuka dasinya. Dia mengambil air hangat dan mengelap kakinya lalu muka nya. "Jangan sentuh saya!!" Teriaknya tapi Pritha tetap melakukan apa yang ingin dia lakukan. Setelah itu dia menarik selimut dan menyelimuti pria yang tadi malam menikahinya. "Kau! Jangan harap aku bakalan mengikuti akal bulus kalian!" Racau Ryuga lagi sampai akhirnya dia memejamkan mata, begitupun dengan Pritha dia kembali ke sofa dan kembali tidur. Dia terjaga sampai seorang petugas datang mengetuk pintu untuk mengantarkan sarapan untuk mereka. Entah aroma yang menggugah selera atau emang sang kapten terbangun karena ketukan sang petugas, yang jelas ketika Pritha mendorong troley ke meja makan, terlihat Ryuga memegangi kepalanya yang terasa nyeri meski matanya masih tertutup. "Akh!" Suara rintihan membuat Pritha yang masih fokus menyusun menu di atas meja otomatis menoleh. "Bapak sudah bangun?" Tanyanya sambil mendekat. "Coba minum anget dulu ini..." Pritha menyodorkan gelas air putih hangat ke hadapan sang kapten. "Jangan sok perhatian di depanku!" Dan... Praaang! Suara pecahan gelas di lantai membuat Pritha terkejut sejenak. Lalu dia mengambil baki untuk memungut pecahan gelas. "Akhh!" Desisnya refleks ketika jari tangannya terkena pecahan gelas dan dia langsung menghisap darahnya. "Siapa suruh kamu pungut itu pecahan?!" Suara dingin seorang pria yang sudah berdiri di sana. Pritha menoleh dan menjawab sabar. "Iya, Pak. Takutnya nanti kena..." "Sudah, biarin! Biar petugas hotel yang beresin. Bersiap saja kamu kita cabut dari sini. Aku masih ada kerjaan." Tegasnya dengan mata yang masih ngantuk, lalu bangkit berdiri dan melangkah menuju kamar mandi dengan cuek. Pritha langsung melanjutkan membersihkan pecahan kaca dan membuangnya di tong sampah. Setelah itu dia mendekat ek arah lemari dan menyiapkan pakaian yang akan di kenakan oleh sang majikan atau yang saat ini sudah sah menjadi suaminya secara agama. Pritha duduk dan membereskan pakaian yang ada di lemari untuk masuk ke dalam koper, karena pakaian-pakaian itu memang di siapkan oleh sang majikan wanita, dan dia hanya tinggal memakainya. Pintu kamar mandi terbuka, dan sang majikan keluar mengenakan kimono mandi dengan wajah yang terlihat lebih segar. Dia mendekat ke arah lemari dan mengabaikan pakaian yang sudah di siapkan oleh Pritha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN