Brugh!!
"Kamu kenapa sih, sampai nubruk orang?! Jalan yang bener, pakai matanya." Gerutu kapten Ryu lagi dengan wajah cemberut.
Pritha hanya nyengir kuda, pose seperti ini benernya lebih terlihat seperti orang bodoh, cuma itu yang terjadi. Sambil menggaruk-garuk kepalanya dia meringis menatap ke arah sang suami. "Hehe, maaf, Mas. Aku gak ngeliat tadi, soalnya kamu ngerem mendadak..." ucapnya dengan salah tingkah.
"Ngerem mendadak-ngerem mendadak, kamu kira aku kendaraan?" Gerutu sang kapten lagi dengan wajah kecut, sepertinya kekesalan sang kapten masih belum berkurang satu persen pun terhadap istri kontraknya meski pernikahan mereka lebih dari dua minggu.
"Ehm, maksud nya berhenti mendadak gitu, Mas? Kayak barusan, kan aku ada di belakang kamu, jadi ya wajar aku nubruk punggung kamu, kalau kita hadapan mungkin aku nabrak d**a kamu..." Pritha bermaksud bercanda untuk mencairkan suasana, karena setiap hari wejangan dari ibu mertua yang sangat baik hati itu selalu memnta agar dirinya juga pintar bercanda dengan suami agar suami merasa betah bersama di rumah.
"Aku berhenti mendadak itu karena aku merasa orang di belakangku lagi ngomongin aku..." sahut kapten Ryu jutek. Dan polosnya Pritha menoleh ke belakang, entah dia sengaja menoleh ke arah belakang karena kalimat sang suami, atau dia emang ingin becanda dengan sang suami.
"Mana orang di belakang? Gak ada, Mas?" Wajahnya polos, matanya membulat dan ekspresinya menggemaskan dengan mata yang berkedip-kedip. Seketika kapten Ryu mengepalkan tangan geram.
"Kamuuu!" Geramnya.
"Iya, Mas. Ada apa?" Sahutnya polos dan reaksi Pritha benar-benar membuat sang kapten semakin geram.
"Ada ya, manusia di dunia ini kaya kamu. Seumur-umur baru ini nemuinnya." Geram sang kapten sambil menghempaskan tvbuhnya ke atas sofa dan menyalakan televisi.
"Apa ini yang di namakan takdir ya, Mas?" Pritha mendekat dan duduk di samping sang suami dengan wajah menggemaskan.
"Heh! Sana kamu jauh-jauh! Ngapain kamu dekat-dekat saya!" Hardik sang kapten lagi sambil mengibaskan tangannya.
"Loh gimana mau jauh-jauh, Mas. Kan kita satu kamar, paling jauh juga lima meter. Atau, benernya ini kode karena mas mau deket-deket aku? Gak pa-pa, boleh kok, Mas. Halal juga...."
Pritha memasang wajah genit.
"Dih! Kalau cewek kaya kamu ini gak bakalan laku, tau! Gak usah menggenit." Gerutu sang kapten.
"Aku emang bukan di jual untuk umum. Aku di cipta khusus untuk kamu aja, Mas?" Jawabnya lalu dia menggeser duduknya dan melanjutkan kalimatnya, "makanya kalau kamu udah siap untuk melaksanakan kewajiban, aku sih, yess, Mas."
Seirin kalimatnya Pritha langsung menyender di lengan sang kapten, membuat sang kapten terkejut dibuatnya.
"Astagaaa! Sana kamu!" Kapten Ryu bangkit berdiri dan melangkah menuju balkon kamarnya. Dia menyalakan rokok yang sudah terselip di sela bibirnya. Berkali-kali dia menghela nafas seperti tengah mengatur emosinya.
"Mas, kamu kok malah pergi ke balkon? Apa kamu pengen pemanasan di sana? Buat obrolan romantis kayak di drama-drama gitu, Mas?" Tatap Pritha sambil mendekat ke arah sang suami. Dan dengan secepat kilat sang suami tampak mengulurkan tangannya.
"Jangan mendekat! Kalau kamu mendekat kamu gak akan pernah lihat saya di rumah ini..." ancamnya dan seketika Pritha tertawa geli sambil menggelengkan kepala.
"Kamu bisa aja ancamannya. Biasanya kalau cowok ngomong itu kebalikannya bukan sih, Mas?" Ucapnya dengan santai dia duduk di kursi empuk balkon kamarnya. Balkon itu memang biasa tempat kapten Ryu bersantai untuk sekedar melepas penat, sehingga tempat di buat sangat nyaman.
Melihat sang istri yang sudah tiba-tba duduk, kapten Ryu seketika langsung membuang putung rokok yang masih panjang, dan meremas rambutnya.
"Haisshh! Kamuuu...." Geramnya sambil menatap sang istri.
"Mas, kenapa kamu remas sendiri sih? Apakah seperti itu remasan yang kamu pengen nanti?" Jawab Pritha dengan santai. Entah kerasukan apa, yang jelas kepulangan kapten Ryu kali ini dibuat terkejut oleh sikap Pritha yang berubah seratus delapan puluh derajat.
"Ehh, kamu ini kenapa sih? Kenapa berubah seperti kesurupan gini? Kamu salah makan apa? Kalau emang sakit ke dokter deh, jangan bikin pusing aku." Geram sang kapten membuat Pritha tersenyum menggoda.
"Nah! Ngomong-ngomong soal dokter. Boleh gak, kalau besok aku ketemu dokter?" Tanyanya menatap ke arah sang suami.
"Ngapain kamu mau ketemu dokter besok?" Sang kapten menautkan dahi.
"Loh! Tapi tadi mas nyuruh aku, katanya kudu ke dokter, dan ngomong-ngomong soal dokter, aku kebetulan ada janjian dengan salah satu dokter terkenal di Jakarta. Aku kemarin bilang sama tuh dokter itu kalau nunggu kamu pulang dulu baru bisa nemuin dia..." jawab Prita polos.
"Heh! Aku tadi bilang ke dokter itu maksudnya ya ke rumah sakit. Bukan ketemu dokter secara pribadi." Tegasnnya lagi lalu sang kapten menggerutu. "Aneh banget tanah liat di kasih nyawa satu ini..."
"Ehh! Apa kamu bilang? Tanah liat? Siapa tanah liat?"
"Itu tadi aku lihat pabrik tanah liat dan pengen aku boom dari atas."
"Lah! Kok bisa. Ya jangan. Wong tu pabrik gak salah." Celoteh Pritha entah sengaja buat sang suami kesal atau memang sengaja buat suami terus ngobrl dengannya sesuai saran sang ibu mertua, meskipun obrolan itu random dan ngeselin.
"Iya emang pabrik gak salah. Yang salah itu kamu, kenapa ada di bumi ini. Dan ketemu aku!"
"Loh-loh! Kok malah nyalahin sang pencipta kamu, Mas. Dosa loh, ayo buruan istigfar biar gak kena azab sama Allah, yang ada kamu nanti malah nyesel..."
Dengan cepat sang kapten menyahut kalimat sang istri.
"Iya, nyesel banget ketemu dan nikahin kamu."
"Wahh...jangan benci-benci gini, Mas. Tar malah bener-bener cinta loh.." canda Pritha dan seketika sang kapten bergidik merinding.
"Dih! Amit-amit jatuh cinta sama kamu. Yang ada energi aku abis baru beberapa kali ketemu kamu." Geramnya.
"Lah, sakit kamu, Mas?" Pritha bangkit berdiri dan menyentuh dahi sang suami, hingga membuat sang suami mundur dan terpeleset, dan untungnya Pritha refleks menarik tangan sang suami, dan justru sekilas seperti adegan romantis. Untuk beberapa detik sang kapten menatap wajah Pritha sang istri, lalu dia tersadar dan berdiri tegak.
"Iya, sakit jiwa aku dekat kamu." Geram sang kapten sambil mengibaskan tangan sang istri, dan dengan cepat dia memeprbaiki kerah bajunya seolah dia sedang salah tingkah.
"Loh, kalau gitu berarti yang membutuhkan rumah sakit lebih ke kamu, Mas?" Tatapnya menggoda melihat wajah sang suami memerah, "tuh! Wajah kamu memerah loh. Pasti sakit kamu udah parah banget itu, Mas.." imbuh sang istri menggoda sang suami yang langsung memalingkan wajahnya dengan salah tingkah.
"Apa'an kamu? Fitnah orang aja bisanya." Gerutu sang kapten dengan pura-pura memasang wajah kesal.