Model Cantik di Club Tokyo

1313 Kata
"Sudah-sudah, kalian makan dulu. Kamu mau ke bandara kan Ryu? Terbang kemana kamu hari ini, Nak?" Sang ibu menatap ke arah puteranya yang tampak geram melihat sang istri. "Hari ini domestik, Mah." "Langsung balik kan tar malam?" "Harusnya sih gitu, Mam?" "Sesekali ajakin Pritha pas kamu terbang, Nak?" Kalimat sang ibu sontak membuat kapten Ryu menoleh ke arah ibunya. "Ngapain, Mah?" "Ya, biar dia ngerasain gimana suaminya duduk di kursi pilot, trus situasi pas suaminya kerja, apa salahnya..." "Nah, iya bener, Ma. Mana tau diem-diem kan ada mainan pramugari..." celetuk Pritha sambil menaruh menu makanan ke piring suami. "Ihh! Kamu ngapain?" Kapten Ryu refleks menghalau sendok sang istri sampai bunyi berdenting. "Kalian ini...udah kaya anak-anak saja berdua, heran." Celetuk sang ibu dengan menggelengkan kepala. "Dia nih, Ma. Usil banget. Masa Ryu mau di kasih kuning telor doank." Gerutunya. "Ya di makan saja kalau istri udah siapin..." ucap sang ibu. "Lah, Mama. Kalau itu racun gimana?" "Racuna paan, wong putihnya aku makan, Mas?" Sahut Pritha tak terima. "Dih, mana tau otak licik kamu." "Kalau kamu di racun emang apa untungnya di aku? Rugi dong, kehilangan suami yang ganteng gini, speck sempurna..." ucap sang istri membuat wajah kapten Ryu memerah seketika. "Manis bener kalau ngomong. Biasanya yang manis-manis gini yang mematikan." Gerutu sang kapten sambil menyendok makanan ke mulut dengan cepat dan minum s**u lalu dia beranjak berdiri. "Mah, Ryu berangkat dulu, ya? Udah mau telat ini..." ucapnya dengan suara cepat tanpa menoleh ke arah istrinya dan berdiri menyalam tangan sang ibu lalu mencium dahi sang ibu. "Hati-hati di jalan ya, Nak..." ucap sang ibu dengan membelai pipi mulus puteranya. "Iya, Ma. Mama juga jaga kesehatan dan selalul bahagia, ya?" "Tentu, ada mantu mama di rumah nemenin, hidup mama jadi makin bahagia..." jawab sang ibu seketika kapten Ryu mencibirkan bibirnya melirik ke arah sang istri yang tersipu malu atas pujian ibu mertuanya. "Oke, Ma. Ryu berangkat dulu..." ucap sang kapten langsung hendak meraih kopernya, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti karena sebuah tangan menahannya. "Masss...kamu lupa sesuatu?" Rengek Pritha dengan wajah menggemaskan. Entah dia sengaja memasang wajah seperti itu, atau itu emang refleks dari dirinya karena berhadapan dengan suaminya, entahlah. Yang jelas sang kapten justru membesarkan matanya dan bergidik merinding melihat tingkah wanita yang berjarak hampir sepuluh tahun lebih muda darinya. "Apa'an sih, kamu?" Gerutunya. "Kamu lupa pamitan sama aku, Mas?" Tatapnya manja dengan senyumnya yang masih terukir di wajahnya. "Dih! Ngapain juga aku pamitan sama tanah liat di kasih nyawa begini?" Gumamna dengan bibir mencibir. "Tapi tanah liat yang ini masih istri sah kamu, Mas. Hayuk sini pamitan, biar aku gak iri dan kamu gak kepikiran aku..." jawab sang istri kini dia memegangi lengan sang suami dan berusaha menyenderkan kepalanya, tapi sepertinya sang kapten mengetahui akal bulus wanita yang dia nikahi dengan kontrak, tangannya dengan sigap menahan kepala sang istri. "Ngapain juga aku kepikiran kamu? Aneh ni mahluk.." kapten Ryu berusaha melepaskan lengannya, sayangnya Pritha cukup erat menggenggam. "Yaelah, ga usah pura-pura depan mama, Mas. Mama juga paham, mama kan pernah muda, iya kan, Ma?" Pritha menatap ke arah sang ibu dan mengerlingkan matanya, membuat sang ibu mengangguk paham. "Iya dong, Ryu. Namanya juga kalian sudah menikah. Mau apapun alasan pernikahan atau gimanapun prosesnya, yang penting di mata agama kalian itu sah. Jadi, ya perlakukan sebagaimana layaknya seorang istri..." sang ibu bangkit, "mama mau ke belakang dulu, lihat tanaman..." imbuhnya sambil melangkah meninggalkan sepasang suami-istri yang baru beberpa minggu menikah. "Kamu sengaja banget depan mama caper, ya?" Geram sang kapten dengan kasar mengibaskan tangannya, "awas! Aku mau berangkat, telat aku gara-gara kamu." Dengkusnya kesal. "Yang pengen telat juga kamu kali, Mas. Pasti kamu sengaja kan gak nyalamin aku biar aku yang nyamperin kamu?" Ucap sang istri yang membuat kapen Ryu membulatkan matanya sempurna. Sang kapten merasa heran dengan sang istri yang tidak memiliki rasa sakit hati sama sekali aats kalimatnya atau perbuatannya. "Aneh kamu! Udahlah, aku mau berangkat. Bentar lagi macet ke bandara, bisa telat aku terang." Ucapnya sedikt melunak. "Salim dulu..." Pritha seperti memahami kekawatiran sang suami dan dia mengulurkan tangannya bersiap menerima salaman pamit dari sang suami. "Ngapain juga pakai salim-saliman segala. Gak usah berlebihan, gak ada siapa-siapa juga." Tandas sang kapten dengan suara tertahan seperti takut ada yang dengar. "Bukan karena gak ada siapa-siapa, aku cuma pengen menikmati peranku sebagai istri..." jawabbnya cepat, "jadi, ayo salam..." ulangnya dan masih tangannya menyodorkan. Kapten Ryu terlihat menghela nafas panjang dan terhembus kasar, lalu dia mengulurkan tangannya dengan cepat malah terkesan seperti high five. "Ihh! Dikit banget sentuhannya..." Pritha memanyunkan bibir. Tapi sang kapten mengabaikan karena dia terburu-buru melangkah menuju pintu sambil melihat jam di pergelangan tangannya, dan sang istri mengikuti dari belakang. "Mas, semangat ya, kerjanya. Jangan lupa kabarin kalau sudah sampai di Bali." Tegas sang istri ketika sang suami duduk di kursi belakang mobil yang sudah terparkir di depan rumah mereka. Sang kapten tidak menjawab dengan kalimat hanya menaikkan satu bibir kiri atasnya dan bergidik melihat wanita yang di pilih istrinya. Sedangkan Pritha terlihat dengan wajah sumringah melambaikan tangan dan memberikan simbol love kearah sang suami meski sang suami menutup pintu kaca mobil. Sampai mobil menghilang dari pandangannya, Pritha baru saja masuk. Mobil melaju dengan cepat ke arah bandara, dan akhirnya tiba di bandara, beberapa pramugari dan staff bandara menyapanya dengan ramah seperti biasa. "Capt, tumben rada telat, trus wajahnya kenapa kusut gitu?" Tanya salah seorang pramugara yang sudah sering dibawa terbang oleh sang kapten. "Ahh! Keppo kamu!" Sahutnya sambil terus melangkah, sampai dia melambai ke arah rekan kerjanya. "Hei, Bro. Tegang amat, lo?" Sapanya sambil meninju bahunya. "Lagi gak mood terbang atau lagi berantem? Ama yang mana?" Godanya lagi dan seketika beberapa cabin crew yang mendengar tertawa terkekeh. Karena pernikahannya dengan Pritha memang diketahui oleh cabin crew pilihan dia yang dia tahu bisa menjaga kerahasiaan. "Lagi bete gua? Kita perlu re shcedule gak sih? Gua pengen terbang inter." "Dih, masalah itu di selesaikan bukan kabur..." celetuknya lagi sambil melangkah berirngan. "Serius, gua pengen ubah jadwal inter deh." "Serah lu dah. Bilang aja lo lagi ga enakan ama istri muda..."ketawa sang pilot membelah suasana ramai bandara pagi itu, beberapa menoleh ke arah mereka. "Ketawa lu, ada yang lebih lebar lagi kaga?" Geramnya. "Kapten, Ryu!" Panggil suara seseorang membuat semua yang melangkah menoleh ke arah sumber suara. "Yah! Fans lo lagi, kita duluan deh..." ucap sang kapten yang memang beda pesawat dengannya. "Yuk, kita misah dari seleb..." imbuhnya dan sang kapten hanya nyengir kuda. "Capt, boleh foto?" Ucap seorang gadis cantik dengan pakaian modis menatap ke arah sang kapten yang langsung mengangguk seperti biasa ketika ada penumpang pesawat yang meminta ber swa poto dengannya. "Oke, tapi gak lama, ya?" Ucapnya sambil memberi kode kepada cabin crew yang berjalan di belakangnya yang langsugn mengangguk paham, karena itu sudah hal biasa mereka hadapi. "Capt, lupa ya, sama aku?" Tatap gadis cantik itu membuat sang kapten menggernyitkan dahi. "Ehmm..." ucapnya lalu dengan santai sang gadis menjawab. "Aku yang di club Tokyo minta foto sama kapten, loh. Trus kita ngobrol dan satu table sama temen-temenku yang lain..." ucap wanita itu membuat sang kapten mencoba mengingat rangkaian kejadian yang biasanya memang tdiak pernah dia ingat kalau tidak penting. "Wahh! Lupa nih pasti, Capt. Kemarin itu janjinya kalau ketemu lagi boleh minta nomornya.." ucapnya lagi dengan memasang wajah manis. "Ohh, iyakah?" Sang kapten tampak menggaruk kepala yang ta gatal. "Iya, dan aku sekarang ini bakalan satu pesawat sama kapten, ke Bali." Ucapnya dengan riang. "Ohh! Iya, kebetulan nih, kita udah hampir telat ni. Sampai nanti, ya?" Ucap sang kapten lagi dan langsung melambaikan tangan dan melangkah cepat tanpa memberikan jeda kepada orang itu menjawab, dan untungnya suara panggilan untuk naik ke pesawat segera terdengar membuat sang pilot menghela nafas lega. "Capt, dia yang di Tokyo yang barengan sama model Tokyo itu bukan sih?" Sang pramugara mendekat ke arah sang kapten dan berbisik, "kayaknya dia model juga deh, Capt. Wajahnya gak asing..." "Yaudah, ambil buat kamu." Sahut sang kapten sambil terus melangkah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN