Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan di pintu kamar itu terdengar jelas di tengah sunyi lorong hotel. Jessica masih berdiri tegak di depan pintu, tubuhnya dibalut gaun malam yang sederhana namun elegan. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai, dan aroma parfum mahal yang baru saja dia pakai masih terasa hangat di kulitnya. Dia menarik nafas perlahan. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Entah karena gugup. Atau karena antusias.
“Duh! Kenapa aku gugup banget gini, ya? Berasa lagi ngapelin pacar aja, hmm gak sabar banget..” gumamnya sambil menahan tawa bahagianya karena akan bertemu pria yang telah lama dia cari.
Sedangkan di dalam kamar, Kapten Ryu yang sedang berdiri di dekat meja langsung menoleh ke arah pintu. Alisnya mengerut.
"Siapa malam-malam begini berani dateng?" gumamnya pelan, “…perasaan aku gak ada janjian ama siapapun, ataukah itu orang iseng?” Imbuhnya lagi, karena malam ini dia tidak mengharapkan siapa pun.
Co-pilot dan kru lain masih berada di bar hotel. Petugas hotel memiliki kode sendiri untuk mengetuk pintu. Dan Carissa... wanita itu bahkan baru saja menghubunginya. Lalu tiba-tiba dia menegang. “Jangan-jangan tanah liat di kasih nyawa yang ada di depan, mama yang kasih tahu semuanya? Selain dia mana ada lagi yang berani isengin gini, dasar mahluk aneh, jangan berharap mau satu ranjang denganku!” Kapten Ryu bangkit berdiri setelah mendengar ketukan pintu kembali.
Tok.
Tok.
Tok.
“Lihat saja, kau akan tidur di sofa, mampus dah!” Geramnya sambil tersenyum jahil, tiba-tiba malam sepi nya sedikit cerah karena membayangkan akan mengerjai istrinya yang selalu menjengkelkan.
Ryu berjalan dengan tangan melipat, gayanya sombong sengaja, dia mencoba berbagai mimik wajah untuk menyambut sang istri yang sudah nekat diam-diam menyusulnya ke Bali, langkahnya perlahan menuju pintu. Tangannya meraih gagang pintu, lalu membukanya sedikit.
Ekspresi wajahnya di buat se dingin mungkin, dan…
Pintu terbuka lebar, tapi bukannya dia yang mengejutkan orang yang ada di balik pintu, justru dirinya yang terkejut dibuatnya setelah meliaht siapa gerangan yang berdiri di sana, bukan istrinya tapi dia adalah wanita yang pernah bersamanya di sebuah club malam terkenal di Jepang.
Ya, Jessica berdiri di sana dengan wajah yang sudah menyajikan senyum manis ke arahnya.
“Haii, Capt…” tangannya melambai ke arah kapten Ryu.
Kapten Ryu langsung menarik nafas panjang, wajahnya langsung berubah sengit.
"Kamu lagi. Ada apa?”
Jessica tersenyum manis seolah pertemuan itu adalah hal paling wajar di dunia dan yang paling di harapkan.
"Selamat malam, Capt."
Kapten Ryu menatapnya beberapa detik, lalu membuka pintu sedikit lebih lebar, dia berusaha keluar kamar.
"Bagaimana kamu tahu kamar saya di sini?” Suara sang kapten terdengar tajam, sayangnya , Jessica mengangkat bahu santai, dia seolah tidak ingin memberi celah pada sang kapten bagaimana dia ada di hadapannya malam ini..
"Pilot terkenal seperti kamu ternyata tidak sulit dicari."
Ryu menggeleng kecil.
"Ini jam istirahat saya, dan tolong jangan ganggu, silahkan kembali…” tangan kapten Ryu mempersilahkan agar Jessica pergi dari depan kamarnya.
Alih-alih tersinggung, Jessica justru tersenyum hangat, kali ini suaranya sedikit manja.
"Aku lagi ga bisa tidur, Capt. Dan butuh teman ngobrol, langsung aku teringat kamu, Capt.” Jawabnya asal.
“Ngobrol?” Ulang sang kapten dengan mata menatap tajam, Jessica mengangguk cepat.
“Ya, ngobrol doang. Jarang-jarang aku dateng ke Bali, jadi pengen gitu punya kesan menyenangkan ketika berkunjung di sini, ada teman ngobrol, gitu. Seperti kala kamu di Jepang, Capt.” Tegasnya seolah mengingatkan agar sang kapten membalas budi nya dulu karnea sudah menemani ngobrol di Jepang.
“Kamu beneran butuh teman ngobrol?” Tanya sang kapten lagi dan dengan antusias Jessica mengangguk.
“Hmm, banget. Hal paling membahagiakan adalah ngobrol panjang lebar bareng kamu, Capt.”
“Bukan aku, aku akan mencarikan tour guide agar kamu bisa ngobrol dan liburan jadi berkesan di Bali.” Tegas sang kapten dengan wajah datar, seketika Jessica mendengkus kesal, tapi dia kembali memasang wajah manisnya.
“Capt, yang aku maksud teman ngobrol itu kamu, bukan tour guide. Kalau ada kamu, ngapain pakai tour guide, coba?” Tatapnya sambil mengedipkan kedua matanya.
“Ya, saya mau istirahat masalahnya, capek.” Tolak sang kapten tegas.
“Bentaran aja, please, Capt. Udah jauh-jauh aku dateng ke sini loh, Capt…” Jessica sengaja memasang wajah sedihna.
“Yang nyuruh kamu dateng siapa? Saya beneran sedang lelah dan ingin istirahat, jadi tidak ada waktu untuk ngobrol apalagi hal-hal tidak penting…” tegas sang kapten lagi.
“Ayolah, Capt. Kita hang out di luar juga boleh, pengen juga nikmati alkohol di sini.” Tegas Jessica lagi sepertinya dia masih tidak menyerah memohon pada sang kapten.
“Kalau saya ingin, pasti tadi saya sudah bergabung dengan cabin crew, karena saya benar-benar sedang lelah…” tolaknya lagi.
“Bentaran doang, please…lima menit boleh deh…” ucapnya merengek sambil memohon dengan tampang yang di buat se menyedihkan mungkin. Ekspresi itu membuat sang kapten menghela nafas panjang
"Di lorong hotel?" Akhirnya kalimat itu keluar dari bibir sang kapten, dan seketika.
“Yess! Berhasil…” lonjakan hati Jessica sumringah. “Sabar, Jess. Kamu butuh waktu lebih banyak untuk menahlukan pria tampan ini…” bisiknya lagi dalam hati.
"Kalau kamu mengizinkan aku masuk, mungkin bisa lebih enak di lihat orang, kalau begini kita berdiri seperti pasangan yang sedang memergoki pasangannya berselingkuh..."
Jessica mencoba menyentuh hati sang kapten dengan pura-pura memasang wajah sedih. Kapten Ryu menatapnya lama, seolah sedagn berfikir apa yang di katakan wanita ini. “Bagaimana jika ada yang melihatku dan mengambil gambar aku bersama wanita ini, bukankah lebih berbahaya? Sungguh menjengkelkan, baru juga aku terhindar dari mahluk aneh yang di rumah, ini adalagi…”
Beberapa detik yang terasa cukup panjang. Jessica menunggu dengan sabar.
“Gimana, Capt? Boleh ya, ngobol di dalem, bentar juga gak masalah, kalau di sini gak enak, takutnya ada yang kenal aku dan mereka ngerekam aku di sini, kan gak enak, aku cuma pengen ngobrol doang, gak lebih kok…” ucapnya lagi memasang wajah tak berdosa.
Akhirnya kapten Ryu menghela nafas panjang. Lalu membuka pintu.
"Lima menit, tidak lebih.”
Jessica tersenyum lebar dan merasa menang.
"Itu lebih dari cukup, Capt.” Wajahnya tampak sumringah.
Dengan lincah dia langsung melangkah masuk ke kamar. Ruangan itu luas, dengan jendela besar menghadap laut yang gelap. Suara hujan masih terdengar samar di luar. Jessica berhenti di tengah kamar, memandang sekeliling.
"Pemandangannya bagus banget dari sini, Capt.” Serunya seolah kamarnya tidak seperti ini, padahal kamarnya juga di tepi pantai dan jauh lebih mahal dari kamar sang kapten.
Ryu menutup pintu.
"Apa yang kamu mau sebenarnya?" Suara sang kapten sambil membawakan air mineral ke meja dan duduk di sana dengan wajah tegas.
Jessica menoleh padanya. Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresinya tidak sepenuhnya menggoda. Ada sedikit keseriusan di sana.
"Aku hanya ingin mengenalmu sebagai sahabat, itu saja kok, Capt.”
Kapten Ryu tertawa kecil.
"Saya tidak butuh sahabat wanita, karena saya sudah memiliki istri.” Tegas sang kapten lagi, dan sialnya ketika dia menyebut kata istri, yang muncul justru wajah Pritha yang sok menggemaskan, hingga membuatnya bergidik sseketika.
“Emang apa salahnya kalau sudah menikah, Capt?” Tatapnya polos sok tidak memahami arah pembicaraan sang kapten.
“Ya, itu tidak pantas. Tidak ada persahabatan pria dan wanita terlebih jika pria itu sudah menikah.” Tegasnya lagi.
“Yakin, kamu ga punya sahabat wanita? Aku percaya kamu punya wanita itu…” tegas Jessica lagi.
“Kalaupun aku punya sahabat wanita, aku sudah mengenal wanita itu cukup lama, dan istriku juga sangat mengenalnya, jadi, tdiak ada istilah berduaan di kamar hotel seperti ini.” Tegasnya lagi.
“Capt, kita kan baru kenal, gimana aku bisa langsung kenal istri kamu, kecuali dia ada di sini baru deh aku bisa kenalan, ya kaaan?” Tatap Jessica lagi, “ tar deh, kalau aku ke Jakarta, aku bakalan mampir dan kenalan dengan istri kamu, karena aku ada project lama di Jakarta.” Imbuhnya dengan senyum penuh arti.
“Kalau kamu benar-benar butuh teman dan seorang pilot, kebetulan co-pilotku itu masih single, setidaknya dia belum menikah, kalau kau mau aku bisa menghubunginya sekarang.” Tegas sang kapten lagi sambil menatap ke arah Jessica seirus.
“Capt, jangan terlalu nyerang aku, aku hanya tidak bisa melupakan kebersamaan kita di Tokyo. Apa salahnya jika aku di izinkan ada di sekitar kamu menjadi sahabat kamu dan…”
“Dan apa?” Sang kapten langsung menyahut.
“Dan aku suka pria seperti kamu, yang tegas berprinsip tapi tetap memiliki empaty tingg, tidak salah aku menganggumi kamu dan meluangkan waktu untuk mengikutimu kesini, bukan?” Tatapnya serius ke arah sang kapten yang hanya bisa menggelengkan kepala.
Kapten Ryu menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Kamu datang ke Bali hanya untuk ini?"
Jessica terdiam sebentar. Pertanyaan itu sebenarnya jauh lebih dekat dengan kebenaran daripada yang Ryu kira. Namun tentu saja dia tidak bisa mengatakan semuanya.
Tentang pesan dari Carissa. Tentang dorongan untuk mendekati pria ini. Tentang rencana yang bahkan dirinya sendiri belum sepenuhnya yakin.
"Kebetulan aku datang karena ada pekerjaan, tapi aku menyesuikan jadwal pekerjaanku dengan jadwal penerbanganmu, tidak salah, bukan?" jawabnya akhirnya.
Ryu mengangkat alis dan tersenyum sinis.
"Kebetulan yang sangat tepat."
Jessica tersenyum lagi.
"Kamu tidak percaya kebetulan?" Tatap Jessica.
“Waktumu sudah habis…” sang kapten menyodorkan ponselnya yang ternyata ada penghitung waktu mundur, membuat Jessica kelabakan sedangkan dia belum menjalankan misinya sama sekali.