Mari buat Kesepakatan

2165 Kata

Suara desis dari alat pengukur tekanan darah yang mengempis menjadi satu-satunya instrumen pemecah keheningan di dalam sangkar beton itu. Aira duduk bersandar di ranjang, membiarkan pergelangan tangannya dilepas dari manset tensimeter. Namun, matanya tidak tertuju pada angka di layar monitor. Sejak pintu baja itu terbuka sepuluh menit yang lalu, pandangan Aira tak bisa lepas dari wajah dokter yang sedang merawatnya. Aira menatap Elena lamat-lamat. Ada yang salah. Sangat salah. Wanita yang biasanya memancarkan aura keanggunan dan otoritas medis yang tak terbantahkan itu, kini tak ubahnya seperti seonggok mayat hidup yang dipaksa berjalan. Kantung mata Elena terlihat sangat gelap dan cekung, menyaingi warna lebam di balik sapuan concealer yang tak rata. Kulit wajahnya pucat pasi, kehilan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN