Kau pembunuh, Bas…

1522 Kata
Pagi itu datang dengan kecanggunggan yang mencekik, seolah oksigen di penthouse Pradipta telah disedot habis oleh pertengkaran semalam. Matahari Jakarta bersinar terik menembus dinding kaca, namun bagi Aira, suhu ruangan terasa berada di bawah titik beku. Ia duduk di tepi ranjang, menatap pergelangan tangannya yang kini berhias lebam ungu samar, jejak cengkeraman Bastian saat mimpi buruk itu menyerangnya. Bastian sudah pergi sebelum Aira membuka mata. Pertanyaan Aira tentang kegelisahan dan ketakutan suaminya tidak pernah terjawab. Pria itu memilih melarikan diri ke dalam kesibukan bisnisnya, meninggalkan istrinya sendirian dengan ribuan teka-teki yang berenang di kepala. Tidak ada ciuman selamat pagi, tidak ada catatan di nakas. Hanya sisi ranjang yang dingin dan aroma musk maskulin yang tertinggal di bantal, satu-satunya bukti bahwa pria itu pernah ada di sana semalam. Aira mengusap lebam di tangannya. Sakit fisik ini tidak seberapa dibandingkan dengan nyeri di dadanya. Rasa percaya yang selama ini ia agungkan mulai retak, menciptakan celah bagi keraguan untuk merayap masuk seperti tanaman liar beracun. Tok. Tok. Suara ketukan pintu yang ritmis memecah lamunannya. "Masuk," suara Aira terdengar parau. Pintu terbuka, menampilkan sosok Dokter Elena yang selalu tampil prima. Hari ini, wanita itu mengenakan kemeja sutra abu-abu di balik jas dokter putihnya, rambutnya digelung rapi tanpa cela. Di tangannya, ia membawa tas medis kulit dan sebuah buku tebal bersampul keras. "Selamat pagi, Nyonya," sapa Elena dengan senyum profesional yang hangat namun terukur. "Wajahmu pucat sekali hari ini. Tidurmu nyenyak?" Aira buru-buru menarik lengan piyamanya untuk menutupi lebam di pergelangan tangan, sebuah refleks alami korban yang melindungi pelakunya. "Pagi, Dok. Hanya... sedikit mimpi buruk," dusta Aira, memaksakan senyum tipis. Mata tajam Elena menangkap gerakan defensif itu. Tentu saja ia melihatnya. Lebam itu adalah trofi kemenangan bagi rencananya. Semakin Bastian kehilangan kendali, semakin mudah Aira dipatahkan. "Mimpi buruk bisa sangat melelahkan secara fisik," komentar Elena diplomatis, berjalan mendekat dan meletakkan barang-barangnya di meja rias Aira yang penuh dengan botol parfum mahal. Elena mengeluarkan tensimeter. Rutinitas pagi dimulai. Namun kali ini, ada agenda tersembunyi yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar memeriksa tekanan darah. "Tekanan darahmu sedikit rendah, 90/60," gumam Elena sambil melepas manset. "Stres?" "Mungkin," jawab Aira singkat. Ia tidak ingin membahas kejadian semalam. Ia takut jika ia mulai bicara, ia akan menangis dan tidak bisa berhenti. Elena mengangguk maklum. Ia membereskan alat-alatnya dengan gerakan lambat yang disengaja. "Oh, ya. Boleh aku minta tolong?" tanya Elena tiba-tiba, menatap jam tangannya dengan ekspresi pura-pura panik. "Ya?" "Aku meninggalkan ponselku di mobil. Ada panggilan penting dari laboratorium yang harus segera kujawab. Boleh aku turun sebentar mengambilnya? Aku titip buku referensiku di sini?” Itu adalah alasan yang klise namun masuk akal. "Tentu saja. Pergilah. Aku akan menunggu di sini." "Terima kasih. Kau pasien terbaikku." Elena meletakkan buku tebal bersampul biru tua itu di atas meja rias, tepat di samping botol pil "vitamin" Aira. Dengan gerakan "ceroboh" yang sangat terkalkulasi, Elena menyenggol sampul buku itu sehingga terbuka. "Aku akan kembali dalam sepuluh menit," ujar Elena, lalu berbalik dan melangkah cepat keluar kamar, meninggalkan Aira sendirian bersama bom waktu yang siap meledak. Keheningan kembali menyelimuti kamar luas itu. Aira menghela napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Ia berjalan menuju meja rias untuk mengambil sisir, berniat merapikan rambutnya yang kusut. Namun, atensinya teralihkan. Buku yang ditinggalkan Elena tergeletak terbuka di sana. Itu adalah ensiklopedia farmakologi, kitab suci obat-obatan. Halaman yang terbuka menampilkan deretan teks rapat dan diagram kimia yang rumit. Biasanya, Aira tidak akan peduli. Istilah medis adalah bahasa asing yang membosankan baginya. Tapi ada sesuatu yang menarik matanya. Sebuah ilustrasi foto obat di pojok kanan halaman. Pil kecil. Berwarna putih. Berbentuk heksagonal dengan garis pemisah di tengahnya. Bentuk itu... sangat familiar. Jantung Aira berdetak satu ketukan lebih cepat. Ia menoleh ke botol kaca tanpa label milik Bastian yang berdiri angkuh di samping buku itu. Botol yang selama dua tahun ini menjadi teman sarapannya. Pil di dalam botol itu, sebelum ia menukarnya dengan permen mint kemarin, memiliki bentuk yang identik dengan gambar di buku. Rasa penasaran, yang merupakan dosa tertua umat manusia, menggerakkan tangan Aira. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya ke halaman buku itu. Matanya menyusuri judul besar yang tertera di atas foto. MISOPROSTOL (Analog Prostaglandin E1) Aira tidak tahu apa itu. Nama itu terdengar asing. Namun, matanya terus bergerak turun, membaca deskripsi indikasi dan kegunaan obat tersebut. Indikasi Utama: Pencegahan tukak lambung (Gastric Ulcer) akibat penggunaan obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS). Kening Aira berkerut. Tukak lambung? Bastian bilang ini suplemen ginjal. Apakah ada hubungannya? Mungkin untuk melindungi lambungnya dari obat lain? Aira melanjutkan membaca. Paragraf berikutnya dicetak dengan tinta merah tebal sebagai peringatan keras (Black Box Warning). PERINGATAN KERAS & KONTRAINDIKASI "Obat ini memiliki efek uterotonika yang kuat (memicu kontraksi rahim). Dilarang keras diberikan kepada wanita hamil karena dapat menyebabkan keguguran spontan, cacat lahir, dan kematian janin." Napas Aira tercekat. Ia membaca baris selanjutnya dengan mata yang mulai memanas, huruf-huruf di kertas itu seolah melompat keluar dan mencekik lehernya. PENGGUNAAN OFF-LABEL: "Sering disalahgunakan sebagai obat penginduksi aborsi medis (pengguguran kandungan) pada trimester pertama. Dosis berulang dapat menyebabkan peluruhan dinding endometrium secara total, mencegah implantasi embrio, dan memicu siklus pendarahan buatan yang menyerupai menstruasi." Dunia Aira berhenti berputar. Lantai marmer di bawah kakinya terasa bergoyang. Telinganya berdenging nyaring, menulikan suara AC sentral yang berdengung halus. Memicu siklus pendarahan buatan yang menyerupai menstruasi. Ingatan Aira berputar mundur dengan kecepatan cahaya. Kalender dengan lingkaran merah yang terlalu sempurna. Siklus haid yang selalu tepat waktu setiap 28 hari, di jam yang sama. Darah yang sedikit dan durasi yang pendek. Mencegah implantasi embrio. Dua tahun pernikahan. Ratusan malam penuh gairah tanpa pengaman di masa subur. Nihil. Kosong. Tidak ada hasil. Suplemen ginjal. Kebohongan itu... kebohongan itu begitu besar, begitu jahat, dan begitu rapi, sampai-sampai Aira merasa mual. Perutnya bergejolak hebat, seolah ingin memuntahkan semua "vitamin" yang pernah dipaksakan Bastian masuk ke tenggorokannya selama 730 hari terakhir. Ternyata dia tidak mandul. Ternyata tubuhnya tidak rusak. Dia sedang disterilkan secara kimiawi. Oleh suaminya sendiri. Oleh pria yang bersumpah di altar untuk melindunginya. "Tidak..." desis Aira, suaranya pecah menjadi isakan ngeri. "Tidak mungkin... Bastian tidak mungkin..." Tangan Aira yang gemetar hebat meraih botol kaca itu. Ia mencengkeramnya erat, seolah ingin meremukkannya menjadi debu. Ia menatap pil-pil putih di dalamnya. yang kini adalah permen mint, namun bayangan pil asli yang beracun itu menghantuinya. Setiap pagi. Setiap senyuman Bastian saat menyodorkan air minum. Setiap kecupan di kening setelah ia menelannya. "Istri pintar." Itu bukan pujian. Itu adalah ejekan bagi kebodohannya. Bastian telah menjadikannya boneka yang patuh, membunuh calon anak-anak mereka bahkan sebelum mereka sempat menjadi benih, dan Aira dengan sukarela membuka mulutnya untuk racun itu. Rasa sakit fisik akibat lebam di tangannya lenyap, digantikan oleh rasa sakit di ulu hati yang jauh lebih menyiksa. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang merobek rahimnya, mengambil paksa haknya sebagai seorang ibu. "Kau pembunuh, Bas..." bisik Aira, air mata mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. "Kau membunuh mereka semua..." Amarah mulai naik, bercampur dengan duka yang pekat. Aira merasa kotor. Ia merasa dikhianati oleh satu-satunya manusia yang ia percayai di bumi ini. Ia hanya bisa berdiri di sana, memegang bukti kejahatan suaminya, menatap halaman buku yang menjadi vonis mati bagi pernikahannya. Tiba-tiba. Tanpa suara langkah kaki yang mendahului, karena karpet tebal meredam segalanya, pintu kamar mandi di sudut ruangan terbuka. Aira tersentak hebat. Ia pikir Bastian sudah berangkat kerja sejak pagi buta. Ia pikir ia sendirian. Aira tidak sempat menyembunyikan buku itu. Tidak sempat menghapus air matanya. Ia hanya bisa mematung saat melihat pantulan sosok tinggi tegap muncul di cermin besar di hadapannya. Bastian berdiri di sana. Ia baru saja keluar dari walk-in closet, mengenakan kemeja biru gelap yang baru, lengannya digulung rapi hingga siku. Wajahnya segar sehabis mandi, rambutnya basah disisir ke belakang. Rupanya dia tidak pergi, dia hanya sedang bersiap di ruang ganti yang kedap suara. Mata obsidian Bastian langsung terkunci pada dua hal: Wajah istrinya yang basah oleh air mata ketakutan. Dan buku medis tebal yang terbuka lebar di meja rias, tepat di sebelah tangan Aira yang mencengkeram botol obat. Bastian tidak panik. Tidak ada keterkejutan di wajahnya. Justru, ekspresinya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menakutkan… kekosongan yang dingin. Suhu ruangan anjlok drastis. Atmosfer berubah menjadi pekat dan menyesakkan. Bastian berjalan mendekat. Pelan. Tenang. Seperti predator yang menyudutkan mangsa yang sudah terluka. Setiap langkahnya mengeluarkan aura d******i yang membuat lutut Aira lemas. Ia berhenti tepat di belakang Aira. Tubuhnya yang besar menjulang, menutupi cahaya lampu, melemparkan bayangan gelap ke atas tubuh mungil istrinya. Bastian mencondongkan tubuhnya ke depan. Aroma aftershave mahal dan feromon maskulin yang memabukkan menerpa indra penciuman Aira, aroma yang dulu menenangkannya, kini memicu refleks mual. Tangan Bastian terulur, melewati bahu Aira. Bukan untuk memeluk, tapi untuk menyentuh halaman buku itu. Jari telunjuknya yang panjang mengetuk pelan judul besar di halaman tersebut. MISOPROSTOL. Lalu, bibirnya mendekat ke telinga Aira, begitu dekat hingga Aira bisa merasakan hembusan nafas hangatnya yang kontras dengan nada suaranya yang sedingin es kutub. "Sedang belajar jadi dokter, Sayang?" Bisikan bariton itu lembut, namun getarannya meremukkan tulang punggung Aira. Tidak ada penyangkalan. Tidak ada alasan "itu obat untuk ginjal". Hanya pengakuan implisit yang arogan dan mengerikan. Aira membeku, terjebak di antara cermin dan d**a bidang suaminya, memegang botol yang kini terasa seperti granat aktif di tangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN