Suara gemericik air di kamar mandi tiba-tiba berhenti, memecah kesunyian sepertiga malam itu. Hanami tersentak, jantungnya berdegup kencang seirama dengan deru napasnya yang memburu. Dengan gerakan cepat dan tangan yang masih gemetar, ia segera menyelipkan kembali buku saku itu ke dalam tas kecil milik Jasson, memastikan posisinya persis seperti semula agar tidak menimbulkan kecurigaan. Ia buru-buru melangkah kembali ke ranjang, mengatur napasnya yang sesak, dan duduk bersandar di kepala tempat tidur. Tangannya meremas selimut, mencoba menenangkan diri saat bayangan angka-angka di catatan tadi masih menari-nari di pelupuk matanya. Di balik pintu kamar mandi yang masih tertutup, Jasson berdiri mematung di depan cermin yang berembun. Ia meringis saat air dingin menyentuh luka lecet di bahu

