"Cantik. Perfect!" Pujian itu spontan keluar dari mulutnya Alvaro ketika melihat Vika yang baru saja keluar dari ruang ganti, setelah sebelumnya di-make up. Ada sekitar 5 jam'an lebih dia menemani perempuan itu di salon, sejak selesai makan siang. Alvaro memastikan Vika makan dulu, sebelum berlama-lama di salon. Alvaro berdehem, lalu mengusap tengkuknya. "Oke. Bagus. Gue mau bayar dulu." Dia pun langsung berlalu menuju ke arah kasir. Sedangkan Vika, pipinya tampak merona tersipu. Dia mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Alvaro. Sebagai seorang perempuan yang memiliki indera perasa lebih tinggi, tentunya Vika senang. Apa lagi yang memujinya adalah seseorang yang disukainya. Vika menggunakan dress tanpa lengan motif kotak-kotak kuning dan hitam, dengan bagian dadanya berbentuk v. Me

