Duduk berhadapan, Alvaro curi-curi pandang ke arah Vika yang sama sekali tak melihat ke arahnya saat makan. Alvaro pun bingung, ingin berbicara apa. Takut salah omong. Alvaro setakut itu, takut kata yang keluar dari mulutnya membuat Vika tak nyaman. Jadi, kedua orang itu makan dalam diam. Vika itu tak berani menatap Alvaro terang-terangan, apa lagi setelah tahu bagaimana perasaan lelaki itu kepadanya walau belum ada bicara langsung. "Kamu sering lembur?" Alvaro dari tadi berpikir keras mencari bahan obrolan, hingga dia menemukan sesuatu yang dirasanya pas. "Sesekali aja." Vika menoleh sejenak, sebelum kembali menunduk. "Seru nggak kerja di sana?" Vika mengangguk. "Lumayan. Orangnya baik-baik semua." "Syukur lah, aku ikut senang." "Di kantor gimana, Kak? Mbak Jihan katanya pengganti

