Niat Buruk

1861 Kata

Mereka disambut dengan hangat di pintu masuk utama oleh Darren dan Alena. “Akhirnya datang juga! Ayo masuk,” sapa Darren sambil langsung mengangkat Kaelo yang merentangkan tangan. “Wah, cucu Opa makin berat nih!” “Opaaaa!” seru Kaelo riang, memeluk leher Darren. “Halo, Ken, Sonya,” sapa Alena, ia memberikan senyuman sekenanya agar tetap terlihat ramah. “Ayo masuk dulu. Bibik baru selesai nyiapin makanan.” Mereka pun menuju ruang tamu. Sonya, yang masuk terakhir, matanya langsung menyapu sekeliling ruangan. Ada yang berbeda. Tata letak furnitur berubah menjadi lebih lapang dan modern. Di tengah meja marmer besar, terpajang rangkaian bunga segar dalam vas kristal tinggi, mengeluarkan aroma lavender dan peony yang sangat enak ketika dihirup. Semuanya terlihat lebih elegan, lebih masuk de

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN