Saksi Pertama.

1246 Kata

Ruang sidang pagi itu terasa tegang. Cahaya matahari yang menembus jendela kaca tinggi tidak mampu mengurangi hawa panas yang menggantung di udara. Kursi-kursi kayu berderit pelan ketika para wartawan mengambil tempat mereka di belakang pagar pengunjung. Petugas keamanan berjaga di setiap sudut, memastikan tak ada yang melampaui batas. Reno Raksadipura duduk di kursi terdakwa dengan borgol masih melingkar di pergelangan tangannya. Wajahnya merah, napasnya berat, dan matanya menyala penuh amarah. Ia menatap tiap saksi yang masuk dengan sinar kebencian yang jelas. Setiap langkah mereka, setiap kata yang keluar dari mulutnya, seperti pisau yang menusuk kesabarannya. Jaksa menatap dengan tegas, menyiapkan saksi pertama. “Yang mulia, kami memanggil Bapak Andri, salah satu supplier yang pernah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN