Dengan tangan gemetar, Aluna menerima gelas jus jeruk itu. Dahaganya terlalu dalam, sehingga ia meneguknya tanpa pikir panjang hingga nyaris habis. Namun tanpa sadar, tetesan jus itu membasahi sudut bibirnya akibat dari terburu-buru. Tiba-tiba Ares terkekeh, memecah keheningan, diikuti dengan sentuhan lembut jarinya di bibir Aluna, membersihkan sisa jus yang menempel. Mata Aluna melebar, dadanya berdebar tak karuan. Perlakuan Ares yang tiba-tiba begitu dekat dan penuh perhatian membuat hatinya bergetar—seolah ada sesuatu yang ingin bangkit namun harus ia tahan rapat-rapat. "Aduh, Aluna ... apa-apaan, sih?" gumamnya dalam hati dengan getir. "Ingat, Lun, dia ini iblis berwujud manusia—kejam, dingin dan nggak punya perasaan. Bisa jadi ini hanya tipu daya yang lebih berbahaya daripada pedang

