Meskipun Bryan datang dalam keadaan luka-luka, meminta tolong dengan suara yang hampir putus asa, Ares justru membeku. Bukan belas kasihan yang menguasainya, melainkan amarah yang menggelegak seperti bara api yang menyala di dadanya. Kehadiran Bryan bagai petir di tengah badai, merusak kedamaian yang seharusnya ia nikmati. Matanya membara saat melihat Aluna dengan lembut mengambil kotak P3K dan hendak merawat luka sepupunya itu, sehingga dia langsung mencegah. "Berhenti!" Suara Aras memotong udara, dingin dan tegas, membuat detik-detik itu seakan berhenti berputar. Tangan istrinya yang lembut dia cengkeram erat. "Ares, aku hanya ingin membantu Bryan," ujar Aluna penuh kepedulian, suaranya bergetar karena ketegangan. "Tidak perlu. Biarkan dia sendiri yang mengurus itu," potong Ares tanpa

