Setelah mereka mencapai puncak bersama, kelegaan membanjiri jiwa keduanya. Ares tergeletak di samping Aluna, napasnya terengah-engah, sementara Aluna mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berdebar kencang. Tubuh mereka begitu lelah, mungkin karena sudah berkali-kali aktivitas itu terulang, bahkan sampai pagi menyapa. Namun anehnya, kali ini Aluna tak pernah merasa terpaksa—semuanya datang dari kemauan dirinya sendiri, seperti yang diminta oleh Ares. Bahkan suaminya pun menunjukkan kelembutan yang tiada tara, menyelimuti setiap sentuhan dengan kasih sayang yang tulus, hingga membuat hatinya bergetar tanpa bisa dijelaskan. Ares memandang wajah Aluna yang basah oleh keringat, lelah namun damai. Dengan penuh kasih, dia mencium kening istrinya perlahan. "Terima kasih," bisiknya denga

