Aluna menatap dengan mata berkaca-kaca, hatinya berdesir penuh haru sekaligus ketakutan. Perlahan, dia melepas pelukan Ares yang begitu erat, seakan menghapus segala rasa takut dan keraguan yang selama ini membelenggu dirinya. "Aluna, aku mau jujur," bisik Ares lirih, suaranya bergetar seperti nyala lilin yang hampir padam. "Perasaan ini … aku tidak mampu lagi untuk menyembunyikannya." Aluna memandang suaminya dengan tatapan penuh kecemasan dan harap. "Maksud kamu?" Suaranya bergetar, menunggu dengan penuh ketegangan. Ares menarik napas panjang, lalu mengangkat wajahnya, menatap mata istrinya penuh kejujuran yang tak berlebihan. "Selama ini … aku terus mencari kamu. Kamu boleh percaya atau tidak, tapi aku bersungguh-sungguh. Aku tidak pernah menginginkan wanita lain selain kamu dalam h

