Celine terperangah, hatinya bergetar antara keprihatinan dan kebingungan yang tak terperi. Bagaimana mungkin Mika menyalahkan Aluna? Dari mana mereka saling kenal? Bukankah waktu itu saat ia bertanya, kakaknya itu mengelak? Dadanya sesak, pertanyaan berputar liar tanpa jawaban yang pasti. "Untuk apa aku terus hidup kalau harus menanggung semua beban ini sendirian? Lebih baik aku mati saja!" teriak Mika histeris, suaranya pecah. Celine segera memeluk Mika, berusaha meredam badai emosi dalam diri kakaknya itu. "Tenang, Kak. Aku mohon, jangan bicara seperti itu. Kamu nggak boleh menyerah! Kalau kamu pergi, aku sama siapa? Aku nggak punya siapa-siapa lagi selain kamu." Mata Mika membara, rasa sakitnya berubah menjadi bara dendam yang siap menyala. "Kalau begitu, kamu harus bantu aku, Cel. K

