Acara pernikahan yang digelar secara tertutup dan privat dengan jumlah tamu undangan terbatas itu berjalan lancar. Suasana sakral begitu kental terasa ketika kedua mempelai membacakan janji pernikahan mereka masing-masing. Meskipun sempat terjadi huru-hara, namun tidak mengurangi kebahagiaan semua orang yang turut menyaksikan pernikahan dua orang yang baru bertemu untuk yang kedua kalinya. Mara yang sudah duduk bersama keluarganya—di kursi deretan terdepan, tersenyum dengan dua mata yang tidak hanya basah. Tapi sudah meneteskan air mata. Dia menangis bukan karena sedih gagal menikah dengan pria yang tidak hanya tampan, memiliki postur tubuh bagus, namun juga kaya raya itu. Dia menangis karena sangat bahagia melihat Derryl akhirnya menemukan seseorang yang bisa membawa pria itu kembali ke

