Dirga meletakkan ponselnya di atas meja kerja dengan gerakan pelan. Kini ia berdiri. Kursi kerjanya terdorong ke belakang, masih bergoyang pelan karena dorongan terakhir dari tangannya. Ia melangkah keluar dari balik meja, berjalan ke sisi ruangan yang lain, lalu membiarkan tubuhnya bersandar di tepian meja kerja. Telapak tangannya bertumpu di permukaan kayu yang dingin, kaki kirinya menyilang di depan kaki kanan. Matanya menunduk ke lantai, karpet abu-abu tebal yang menutupi hampir seluruh ruangan, dengan pola geometris yang membosankan.
Dari luar, terdengar suara gaduh. Suara perempuan yang meninggi, diikuti oleh suara lain yang berusaha menenangkan tapi tidak berhasil.
Dirga tidak bergerak. Matanya masih tertuju ke lantai, ke serat-serat karpet yang tersusun rapi, ke satu benang yang sedikit terlepas di sudut dekat kaki mejanya.
Pintu ruangannya terbuka dan terbanting.
"Dirga!"
Shinta masuk seperti angin putting beliung, rambut panjangnya yang biasanya terurai rapi kini sedikit kusut di beberapa helai, mungkin karena perjalanan dari lobi hingga lantai sepuluh yang ia tempuh dengan langkah cepat dan penuh emosi. Wajahnya merah, karena amarah dan kecewa.
Di belakangnya, Rindi, sekretarisnya berdiri dengan ekspresi panik. Tangan Rindi masih terulur ke depan, seperti masih berusaha menghalangi meskipun sudah terlambat.
"Pak—" Suara Rindi setengah berteriak, setengah meminta maaf.
"Biarkan. Dia masuk."
Suara Dirga datar. Tidak menunjukkan bahwa ia terkejut, marah, atau kesal. Hanya datar. Seperti biasa.
"Baik, Pak."
Rindi mundur. Pintu ditutup perlahan, tapi tidak sampai mengunci. Rindi mungkin masih berdiri di luar, bersiap jika terjadi sesuatu.
Shinta berdiri di tengah ruangan. Dadanya naik turun cepat, napasnya tersengal-sengal, karena emosi yang menggelegak di dalam dadanya. Matanya menyapu ruangan, lalu berhenti pada Dirga yang masih bersandar di tepi meja kerja dengan pose yang terlalu santai untuk situasi seperti ini.
"Kamu nikah?"
Suara Shinta keluar setengah terisak, setengah tertahan. Ia menelan ludah, mencoba menenangkan diri, tapi tidak berhasil.
"Itu cuma hoaks kan?"
Perlahan, Shinta melangkah mendekat. Langkahnya pelan, ragu, seperti orang yang berjalan menuju sesuatu yang ia takuti tapi tidak bisa ia hindari.
Dirga tidak bergerak dari posisinya. Matanya mengikuti Shinta, tapi tidak ada perubahan di wajahnya.
"Ya."
Dirga mengangkat tangan kanannya. Perlahan. Dengan sengaja. Jari manisnya menghadap ke arah Shinta, memperlihatkan cincin perak tipis yang melingkar di sana.
Shinta membeku.
Matanya terpaku pada cincin itu. Berkedip. Lalu menatap Dirga lagi. Lalu kembali ke cincin. Seolah ia berharap cincin itu akan menghilang jika ia cukup lama menatapnya.
"Gak mungkin, Dirga."
Shinta berdiri tepat di hadapan Dirga sekarang. Jarak mereka hanya satu lengan. Dirga bisa mencium parfum Shinta.
"Kita sudah bersama selama dua tahun." Suara Shinta bergetar. Wajahnya yang tadi merah kini mulai pias, warna yang hilang dari pipinya, meninggalkan hanya kemerahan di sekitar mata dan ujung hidung. "Dan tiba-tiba saja kamu nikah diam-diam dengan wanita ...."
Ia menghela napas. Tangannya gemetar di sisi tubuh.
"Siapa wanita itu? Jangan bilang kalau kamu dijodohkan."
Dirga menggeleng pelan. Gerakan yang nyaris tidak terlihat.
"Ini atas kemauanku, Shinta."
Ia berhenti sejenak, mengatur kata-kata. Bukan karena ia kesulitan, tapi karena ia tahu apa pun yang ia katakan, Shinta akan terluka.
"Dan sebelumnya, saya sudah katakan padamu kalau hubungan kita berakhir. Kamu berpikir saya bercanda."
"Ya, karena aku gak tahu salahku di mana!"
Suara Shinta meninggi. Tangannya yang tadi gemetar kini mengepal.
"Tiba-tiba saja kamu mutusin aku tanpa alasan jelas! Kamu juga gak bilang kalau mau nikah!"
Dirga menatap Shinta. Sekarang, untuk pertama kalinya hari itu, ada sesuatu di matanya. Bukan simpati. Bukan penyesalan. Tapi ... kelelahan. Kelelahan karena harus menjelaskan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
"Saya putusin kamu, karena itu alasannya. Dan, maaf, tidak bisa beritahu kamu."
Ia menegakkan tubuhnya sedikit. Bahu yang tadinya santai, kini sedikit mengeras.
"Intinya, kita sudah putus sebelum saya nikah. Jadi kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi."
Kata-kata itu keluar dari mulut Dirga dengan tenang. Tanpa emosi. Tanpa nada menyesal. Shinta yang mendengarnya merasakannya seperti pisau yang menusuk pelan-pelan di dadanya.
"Tega ya, kamu."
Bibir Shinta gemetar. Matanya mulai basah, tapi ia menahan air mata itu. Ia tidak mau menangis di depan Dirga. Tidak mau memberi pria itu kepuasan melihatnya hancur.
"Tega ya, kamu!"
Sekarang tangannya bergerak. Mengepal. Lalu memukul. Bukan pukulan keras, tapi pukulan yang keluar dari rasa sakit, dari kebingungan, dari dua tahun yang ia investasikan untuk pria yang kini berdiri di depannya dengan wajah dingin tanpa perasaan.
Telapak tangan Shinta menghantam d**a Dirga. Sekali. Dua kali. Berkali-kali. Suaranya terdengar nyaring di ruangan yang sunyi.
"Tega kamu padaku, Dirga!"
Suara Shinta pecah di tengah kalimat. Air mata yang sedari tadi ia tahan, akhirnya jatuh. Membasahi pipi yang riasannya mulai luntur di sudut mata.
"Aku mencintaimu, Dirga!"
Dirga berusaha memegangi pergelangan tangan Shinta. Tangannya meraih, mencoba menahan gerakan tangan perempuan yang semakin tak terkendali. Tapi Shinta terus memukul, ke d**a, ke bahu, ke lengan Dirga yang mencoba melindungi dirinya.
"Jahat kamu, Dirga! Kamu khianati aku!"
Pintu ruangan terbuka lebar.
Rindi masuk lebih dulu, dengan wajah panik dan napas memburu. Di belakangnya, dua petugas keamanan berdiri sigap, mata mereka menilai situasi dengan cepat, apakah ini hanya drama pribadi atau ancaman nyata. Arman menyusul dari belakang, melangkah dengan tenang tapi tegas.
"Lepaskan!" teriak Shinta ketika kedua petugas keamanan mulai menariknya.
Mereka tidak kasar, tapi tegas. Tangan kanan dan kiri Shinta dipegang, tubuhnya ditarik perlahan mundur menjauh dari Dirga. Shinta memberontak, tubuhnya berusaha maju lagi, kakinya menendang ke depan, tumitnya yang tajam nyaris mengenai betis Dirga.
"Lepaskan aku! Belum selesai, Dirga! Belum selesai!"
Shinta berteriak. Mencaci. Kata-kata kasar keluar dari mulutnya, kata-kata yang tidak pernah Dirga dengar dari wanita itu selama dua tahun mereka bersama. b******n. Pengecut. Tidak bertanggung jawab.
Arman menatap Dirga. Matanya bertanya, Apakah perlu tindakan lebih lanjut?
Dirga menggeleng pelan. Tidak perlu.
Petugas keamanan terus menarik Shinta ke luar ruangan. Suaranya masih terdengar, bahkan setelah tubuhnya menghilang di balik pintu. Gaungnya masih bergema di koridor, memantul dari dinding ke dinding, sampai akhirnya meredup.
Rindi masih berdiri di dekat pintu, wajahnya tegang. "Pak, saya minta maaf—"
"Tidak apa. Kembali bekerja."
Rindi mengangguk cepat, lalu keluar. Pintu ditutup. Kali ini, terkunci.
Arman masih berdiri di sudut ruangan, menunggu. Dirga tidak menyuruhnya pergi, tapi juga tidak menyapanya.
Dirga berjalan ke dekat jendela kaca besar yang menghadap ke selatan.
Tangannya merapikan kemejanya. Kemeja putih lengan panjang yang tadi pagi ia kenakan dengan rapi, kini kusut di bagian d**a, bekas pukulan Shinta. Beberapa kerutan juga muncul di bahu, mungkin karena ia bergerak terlalu cepat saat berusaha menahan tangan perempuan itu.
Dirga menarik ujung kemejanya, meluruskannya, tapi kerutan di bagian d**a tidak mau hilang. Seperti kenangan.
Ia menatap pantulannya di kaca jendela. Wajahnya masih sama, tegas, rahang mengeras, mata yang tidak bisa dibaca. Tidak ada bekas penyesalan. Tidak ada bekas kesedihan. Hanya seorang pria di mana wanita yang dicintainya memukuli di depan mata karyawannya, dan ia tidak merasa apa-apa.
Arman masih berdiri di sudut. Setelah beberapa saat, ia membuka suara.
"Pak, apakah perlu saya antar sampai ke rumah?"
Dirga tidak menoleh.
"Tidak. Urus saja dia agar tidak datang lagi ke sini."
"Baik, Pak."
Arman keluar. Pintu tertutup dengan suara pelan. Sekarang Dirga benar-benar sendirian di ruangan yang sunyi itu.
***
Malam itu, setelah mendapat kontak dari salah satu teman, akhirnya Ara mendapatkan nomor yang ia tunggu. Ara langsung menekan tombol panggil, tangannya sedikit gemetar.
Telepon diangkat setelah dua dering.
"Halo, Ara?"
"Ya, Mbak. Maaf ganggu malem-malem." Ara duduk di tepi ranjang, jemarinya menggigit kuku jari tangan kirinya. "Barang-barang aku di kantor masih ada, kan?"
"Iya, masih. Meja kamu belum ada yang pake. Kamu mau ambil?"
"Besok bisa?" Suara Ara cepat, sedikit terburu-buru.
"Bisa. Mau ketemu di mana?"
Ara berpikir sejenak.
"Di cafe dekat kantor aja. Aku tunggu di sana."
"Oke, besok aku kabari lagi ya."
"Baik, Mbak Eci. Makasih banyak, ya."
"Sama-sama, Ara. Semoga kamu baik-baik aja, ya."
Ara tidak menjawab. Ia hanya tersenyum pahit, lalu menutup telepon.
Baik-baik aja. Ya, ia masih hidup. Masih bernapas. Masih bisa berdiri dan berjalan dan berbicara. Tapi baik-baik aja? Tidak. Tidak semenjak pria bernama Dirgantara Bayuadji melangkah masuk ke tenda.
Ara meletakkan ponsel barunya di ranjang, bertepatan dengan suara mesin mobil yang terdengar dari luar.
Dirga pulang.
Ara bergegas berdiri, kakinya melangkah cepat keluar kamar. Ia harus meminta izin. Ia benci meminta izin. Tapi ia juga tidak ingin membuat situasi lebih buruk dari sudahnya.
Baru saja Ara hendak menuruni tangga, Dirga sudah muncul di ujung anak tangga dengan gerakan cepat, kaki panjangnya menaiki dua anak tangga sekaligus.
Mereka bertemu di puncak tangga.
Dirga sedikit lebih tinggi karena posisinya yang masih satu anak tangga di bawah Ara, tapi aura yang terpancar darinya tetap membuat Ara merasa kecil. Pria itu masih mengenakan setelan kerjanya, jas hitam yang sedikit kusut di bagian lengan, kemeja putih dengan dua kancing terbuka di leher, dasi yang sudah longgar dan menggantung tidak rapi.
Ara menggeser tubuhnya ke samping, memberi ruang bagi pria itu untuk lewat. Ia menahan napas, menahan rasa kesal yang sudah menggelegak di dadanya sejak pria ini pergi tadi pagi.
"Aku mau keluar besok."
Dirga yang sudah berjalan menuju kamarnya di ujung koridor, tidak berhenti. Langkahnya terus berjalan mantap, seolah Ara tidak sedang berbicara.
"Aku mau ketemu teman kantor, mau—"
"Mau ketemu Zaki?"
Dirga menoleh. Kini ia sudah sampai di depan pintu kamarnya, satu tangan di gagang, badan setengah ke arah Ara. Menatap tajam. Tidak berkedip.
"Enggak." Suara Ara sudah terdengar ketus. Tangannya mengepal di sisi tubuh. "Kata siapa aku mau ketemu b******n itu?!"
"Tidak bisa."
Dirga membuka pintu kamarnya. Pintu kayu gelap itu bergerak terbuka, memperlihatkan sebagian ruangan di baliknya, kamar yang kemarin Ara masuki tanpa izin. Kamar terlarang.
Tapi Ara tidak tinggal diam.
Ia menghampiri Dirga dengan langkah cepat, hampir berlari. Tangannya meraih ujung jas pria itu, bukan menggenggam, tapi menarik. Kuat. Jas itu meregang di bahu, dan Dirga yang hendak masuk ke kamar, terhenti.
"Aku mau ambil barang-barang aku!" Suara Ara kini meninggi, setengah berteriak.
Dirga menatap tangan Ara yang menggenggam jasnya. Lalu menatap wajah Ara. Tatapannya bukan lagi tajam, tapi dingin.
"Ini hanya trik kamu agar bisa bertemu dengan Zaki."
"Kalau iya kenapa?"
Ara mendongak, menantang. Matanya menyala karena muak. Sejak pria ini menuduhnya, menghinanya, menguncinya di rumah seperti tahanan.
"Kenapa?! Saya sudah bilang tidak bisa!"
Suara Dirga sekarang naik. Tidak berteriak, tapi ada getaran di sana, seperti orang yang sudah kehilangan kesabaran. Orang yang di kantor diteror mantan kekasih yang tidak terima diputuskan, yang pulang ke rumah hanya untuk dihadapkan pada istri yang tidak pernah diinginkan.
Tangannya bergerak.
Cepat.
Mencengkeram lengan Ara.
Bukan genggaman biasa, tapi cengkeraman yang membuat jari-jari pria itu menekan kulit Ara hingga meninggalkan bekas. Kencang. Kuat. Tidak bisa dilepaskan.
Ara terkejut. Matanya terbelalak. Nafasnya tersendat.
"Biar saya kasih pelajaran kamu."
Suara Dirga dingin. Setenang es. Tapi ada sesuatu di balik ketenangan itu, sesuatu yang gelap, yang sudah menunggu untuk keluar sejak semalam, sejak ia melihat Ara menangis di sudut kamar, sejak ia hampir kehilangan kendali dan memilih pergi.
Dirga menarik Ara.
Bukan menyeret seperti kemarin, tapi menarik, memaksa Ara ikut langkahnya memasuki kamar. Kakinya yang pendek harus melangkah cepat agar tidak tersandung. Pintu kamar tertutup di belakang mereka dengan suara yang teredam oleh karpet tebal, tapi terasa seperti ledakan di telinga Ara.
"Lepasin aku!"
Ara berusaha melepaskan cengkraman tangan Dirga. Tangan kirinya mencoba membuka jari-jari pria itu satu per satu, tapi cengkeramannya terlalu kuat. Seperti besi. Seperti rantai yang tidak bisa diputus.
Dirga tidak menggubris. Ia terus berjalan, menyeret Ara melewati ruangan, melewati ranjang besar dengan sprei abu-abu gelap, melewati lemari pakaian dua pintu yang tertutup rapat, melewati meja kerja dengan laptop yang masih menyala.
Menuju kamar mandi.
Ara menyadari arah tujuan mereka ketika kakinya menyentuh ubin kamar mandi yang dingin. Ubin putih berukuran besar, dinding kaca dari bilik shower, wastafel dengan cermin besar di atasnya.
Dan tiang handuk.
Tiang krom berwarna perak yang menjulur horisontal dari satu dinding ke dinding lainnya.
"Lepasin!"
Ara berteriak sekarang. Suaranya memantul dari dinding ubin, berlipat ganda, terdengar seperti teriakan dari sepuluh orang sekaligus.
Tapi Dirga tidak melepaskan.
Dengan satu tangan ia menahan Ara di dinding, menekan tubuhnya yang kecil dan rapuh itu ke dinding yang dingin. Sementara tangan yang lain naik ke lehernya, menyentuh dasi yang sudah longgar itu.
Sekali tarik.
Dasi terlepas dari kerah kemeja. Kain hitam panjang itu meluncur keluar, dan sebelum Ara sempat memahami apa yang akan terjadi, Dirga sudah mengambil kedua tangan Ara, tangan kanan dan kiri, menggenggamnya dalam satu kepalan besi, lalu melilitkan dasi itu di pergelangan tangannya.
Lilitan pertama. Kencang.
Lilitan kedua. Lebih kencang.
Lalu ia menarik tangan Ara ke atas, mengaitkannya ke tiang handuk, dan dengan dua tarikan cepat, dasi itu terikat erat. Tidak bisa bergerak. Tidak bisa lepas.
"Gila! kamu gila!"
Ara menjerit. Suaranya pecah, parau, keluar dari tenggorokan yang terasa seperti terbakar. Matanya sekarang benar-benar basah, bukan karena sedih, tapi karena takut. Takut yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Kamu gila, Dirga! Psikopat gila!"
Dirga mundur satu langkah. Ia berdiri di tengah kamar mandi, menatap Ara datar. Tatapan matanya kosong.
Kosong seperti tidak ada apa-apa di sana. Seperti pria yang berdiri di hadapannya bukanlah manusia, melainkan cangkang kosong yang ditinggalkan oleh jiwa.
"Diam!"
Suaranya tidak keras. Tapi tajam. Dan ketika kata itu keluar, Ara merasakan dingin menjalari seluruh tubuhnya, bukan dingin dari ubin yang menekan punggungnya, tapi dingin yang datang dari dalam, dari kesadarannya bahwa ia sekarang tidak bisa ke mana-mana.
Tangan terikat. Tubuh tertekan ke dinding. Kepala menengadah karena posisi tangannya yang diikat ke atas.
Dan di depannya, seorang pria berdiri dengan mata kosong dan napas yang mulai teratur kembali.
Ara menggigit bibirnya.
Ia tidak akan berteriak lagi. Tidak akan memberi pria itu kepuasan melihatnya takut.
Tapi air matanya, air mata itu jatuh dengan sendirinya. Tanpa izin. Mengalir dari sudut mata ke pipinya.
Dirga masih berdiri di sana.
Ia menatap Ara, melihat air mata yang jatuh, melihat d**a Ara yang naik turun cepat karena napas yang memburu, melihat pergelangan tangan yang mulai memerah karena lilitan dasi yang terlalu kencang.
Tidak ada kata-kata yang keluar.
Hanya tatapan.
Tatapan yang tidak bisa Ara baca. Bukan marah. Bukan puas. Bukan apa pun.
Hanya ... kosong.