10. Daerah Terlarang

1572 Kata
Air hangat yang mengalir dari pancuran tadi sempat membuat Ara merasa manusiawi lagi untuk beberapa saat. Tapi begitu ia keluar dari bilik kaca, menatap wajahnya sendiri di cermin ia sadar bahwa tidak ada air hangat di dunia ini yang cukup untuk membersihkan rasa malu dan marah yang mengendap di dadanya. Sekarang, Ara berdiri di depan meja rias yang tampak masih baru. Meja rias itu minimalis, kayunya berwarna gelap, dengan cermin bundar besar yang dikelilingi lampu-lampu kecil. Semua serba baru. Serba asing. Seperti hidupnya sekarang. Ia mengenakan kaus rumahan berwarna abu-abu yang sedikit pas badan dan celana kain yang cukup longgar. Pakaian yang biasa ia kenakan untuk tidur di rumah orang tuanya. Tapi sekarang ia mengenakannya di rumah pria yang tadi malam hampir, Ara menggeleng. Tidak usah dipikirkan. Telapak tangannya masih terasa kebas. Ia menggenggam tangan kanannya dengan tangan kiri, meremas, mencoba menghilangkan sensasi aneh di sana. Tadi malam, tanpa berpikir, tangannya melayang dan menampar pipi Dirgantara Bayuadji. Keras. Sampai telapak tangannya terasa panas selama berjam-jam setelahnya. Itu kali pertama Ara melakukan kekerasan pada orang lain. Ada sedikit rasa bersalah di sudut hatinya. Sedikit. Sekecil biji wijen. Karena ia dibesarkan dalam keluarga yang mengajarkan bahwa tangan digunakan untuk memberi, bukan menyakiti. Bahwa mulut digunakan untuk berkata baik, bukan membentak. Bahwa seorang wanita harus lembut, bahkan ketika dunia tidak lembut padanya. Tapi kemudian Ara mengingat lagi. Kata-kata Dirga. Sudah dipakai. w************n. Bekas Zaki. Rasa bersalah itu menguap. Tidak hilang sepenuhnya, tapi menyusut menjadi sesuatu yang tidak penting. Ara tidak menyesal. Ia menyesal tidak menampar lebih keras tadi malam. Ia meraih sisir di atas meja rias, menariknya pelan melalui rambutnya yang masih lembap. Gerakannya lambat, berulang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih belum stabil sejak pagi. Ponsel. Ia butuh ponselnya. Dirga pasti yang mengambilnya. Ara yakin. Ia berjalan ke pintu kamarnya yang tadi dibiarkan terbuka oleh Dirga. Ara membuka pintu. Langkahnya pelan keluar dari kamar. Lantai dua rumah ini tidak begitu luas. Hanya ada dua pintu di koridor yang pendek. Pintu kamarnya dan satu pintu di depan kamarnya yang tertutup rapat. Dari celah bawah pintu itu, tidak ada cahaya yang keluar. Ara melangkah melewati pintu tertutup itu, lalu berhenti di depan ruangan lain yang terdapat sofabed berwarna abu-abu, televisi layar besar yang tergantung di dinding, dan rak buku kosong. Ruang keluarga di lantai dua. Atau mungkin ruang santai. Tidak penting. Ara menuruni tangga. Kakinya yang masih telanjang menyentuh marmer dingin di setiap anak tangga. Dari kejauhan, ia bisa mendengar suara keran air menyala. Suara gemericik yang terasa terlalu ramai untuk rumah yang sedingin ini. Dari balik dinding, Ara menurunkan kepalanya, mengintip ke sudut dapur yang terbuka. Seorang wanita berdiri membelakanginya. Rambutnya diikat rapi, mengenakan kemeja lengan panjang dan celana kain. Ia sedang sibuk di depan kitchen sink, mencuci sesuatu dengan gerakan yang cepat dan teratur. Bukan Dirga. Ara menarik napas lega tanpa sadar. Ia berjalan cepat menuruni sisa anak tangga dan melangkah ke dapur. Kakinya yang telanjang hampir tidak bersuara di lantai marmer, tapi wanita itu sepertinya merasakan kehadirannya. Ia sedikit menegang, lalu menoleh. "Eh, ada ...." Wanita itu setengah terkejut. Matanya membulat, lalu berkedip cepat, seperti tidak yakin dengan apa yang ia lihat. Mungkin karena Ara terlihat terlalu santai untuk seseorang yang baru pertama kali ada di rumah ini. Sebelum Ara sempat memperkenalkan diri, suara dari balik dinding menjawab untuknya. "Dia istri saya." Ara menoleh. Dirga berdiri di dekat pintu geser yang menghubungkan dapur ke ruang belakang. Kaus polo hitam membalut tubuhnya dengan pas, lengannya menggantung natural di sisi tubuh. Celana Chino hitam. Sendal rumahan berwarna gelap. Penampilannya santai, tapi tetap rapi, seperti orang yang bangun pagi dengan kemewahan waktu. Ia melangkah masuk ke dapur, mengambil gelas dari rak, lalu mengisi air dari dispenser. "Alranita," lanjut Dirga tanpa menatap Ara. Ia menyebut nama itu seperti orang menyebut daftar belanja. Datar. Tanpa makna. Wanita itu tersenyum. Lebar. Terlalu lebar untuk seseorang yang baru pertama kali bertemu majikan baru. "Panggilnya Bu Ara atau Bu Nita, nih?" tanyanya berusaha untuk akrab. Wanita itu menatap Ara dengan ramah, atau setidaknya berusaha ramah. Matanya menyapu wajah Ara dari ujung rambut ke dagu, seperti sedang merekam detail untuk dilaporkan nanti. "Ara aja, Bu." Ara tersenyum balik. Senyum yang ia latih sejak kemarin. "Ara aja, enggak usah pakai 'Bu'." "Baik, Mbak Ara." Wanita itu tampak lega. "Saya Yati, Mbak. Pak Dirga, panggil saya minggu lalu untuk kerja di sini. Baru mulai hari ini." Ara mengangguk. Dipanggil minggu lalu. Sebelum pernikahan. Sebelum Dirga datang ke tenda. Pria itu sudah menyiapkan rumah ini. Untuk siapa? Untuk Ara? Atau untuk rencana lain yang tidak ia mengerti? Dirga tidak menunggu percakapan selesai. Ia meneguk airnya sampai habis, meletakkan gelas di meja bar dengan suara pelan, lalu berjalan meninggalkan dapur. Langkahnya tenang menuju lorong, lalu membelok ke arah tangga. Ara menatap punggungnya. Begitu lebarnya. Begitu tegas. Begitu ... tidak peduli. Ponsel. Ia teringat. Ara segera melangkah, meninggalkan Yati yang masih setengah bingung di dapur. Kakinya terburu-buru menyusuri lorong, lalu menaiki tangga. Di ujung tangga, ia melihat Dirga hendak masuk ke kamar, kamar di ujung koridor yang tadi tertutup rapat. "Dirga, tunggu!" Ara hampir berlari. Dirga berhenti di ambang pintu, satu tangan di gagang, badan setengah membelok. Ia menoleh, tapi tidak menyahut. Hanya menatap, dengan mata yang sama persis seperti semalam, dingin, datar, seolah Ara adalah gangguan kecil yang tidak layak direspons dengan kata-kata. "Ponsel aku," ucap Ara. Tangannya sudah terulur ke depan, telapak terbuka, menadah. "Nanti." Dirga mendorong pintu sedikit. "Saya belikan yang baru." "Aku gak mau ponsel baru!" Suara Ara naik setengah oktaf. "Aku mau ponsel aku!" Mata Ara membulat. Ponsel baru? Ia tidak minta ponsel baru. Ia minta ponselnya, ponsel yang berisi foto keluarganya, pesan-pesan dari teman-temannya, nomor kontak ibu dan ayahnya. Ponsel itu adalah satu-satunya benda yang masih terasa miliknya di rumah asing ini. "Ponsel kamu mati," kata Dirga, masih dengan nada yang sama. "Biar aku charger!" "Saya sudah pesan. Ponselnya sedang di jalan." Dirga masuk ke kamar. Tapi Ara tidak mau kalah. Ia langsung menerobos masuk, melangkahi ambang pintu dengan kedua kaki, dan berdiri di ruangan yang tidak pernah ia masuki sebelumnya. Kamar Dirgantara Bayuadji. Suaminya. Kata itu membuat bulu kuduk Ara berdiri. Ruangan ini lebih besar dari kamar yang Ara tempati. Jauh lebih besar. Tempat tidur ukuran king dengan sprei abu-abu gelap mendominasi ruangan. Ada pintu yang mengarah ke ruang pakaian sebelah kiri, meja kerja dengan laptop yang masih menyala di sudut, dan jendela kaca besar yang menghadap ke halaman belakang. Cahaya pagi masuk cukup banyak karena gordennya yang terbuka lebar. Tapi Ara tidak peduli dengan semua itu. "Aku mau ponsel aku, Dirga!" suaranya meninggi. "Balikin!" Dirga berbalik. Ia berdiri di tengah ruangan, dua meter dari Ara, dengan tangan di saku celana. Wajahnya masih tenang. Terlalu tenang. "Kamu masuk daerah terlarang," ucapnya. Suaranya datar. Tapi ada sesuatu di sana, peringatan yang tidak perlu diucapkan dua kali. Sepasang mata Ara terbelalak. "Apa?!" Daerah terlarang? Kamar ini? Kamar tidurnya? Apa ia sedang berada di istana kerajaan yang punya aturan siapa boleh masuk ke kamar siapa? Dirga tidak mengulang. Ia hanya menatap Ara. Datar. Dingin. Seperti orang tua yang sedang menunggu anak nakal sadar dengan sendirinya. Ara memandang ke sekeliling ruangan. Kamar tidur. Ya, tentu saja. Kamar Dirga. Bukan kamarnya. Bukan tempat yang seharusnya ia masuki tanpa izin. Itu masuk akal. Tapi Ara tidak sedang dalam posisi mau berdamai dengan akal sehat. Ia mundur. Satu langkah. Dua langkah. Kakinya melewati batas pintu, kembali ke koridor. Tapi ia tidak pergi. Ia berdiri di ambang pintu, dengan tangan masih terulur. "Aku mau ponsel aku." "Nanti." "Nanti kapan?!" Suara Ara semakin meninggi. Dirga tidak menjawab, tapi tatapan matanya terus tertuju pada Ara. Ia mendekati pintu, tangannya meraih gagang dari dalam, dan dengan gerakan yang tenang tapi tegas, ia menutup pintu tepat di depan wajah Ara. Tidak dibanting. Tidak juga didorong pelan. Hanya ditutup, dengan cara yang mengatakan bahwa percakapan ini selesai, bahwa Ara tidak punya suara di sini, bahwa ponselnya akan kembali atau tidak, itu bukan wewenangnya untuk memutuskan. Ara terdiam di depan pintu. Matanya menatap pintu yang tertutup rapat. Bayangannya terpantul di permukaan kayu yang mengilap, rambut lembap, kaus sedikit ketat, wajah sembab, dan ekspresi antara marah dan putus asa. "b******k," gumamnya pelan. Lalu lebih keras. "b******k!" Ia menendang udara, bukan pintunya, karena ia masih punya sisa rasionalitas untuk tidak merusak properti orang, lalu berbalik dan berjalan ke kamarnya dengan langkah kesal. Di koridor yang sunyi, hanya suara sandal kakinya yang sengaja dia tekan-tekan ke lantai. Ia hanya berjalan telanjang kaki di lantai marmer yang dingin, dengan hati yang lebih dingin dari marmer itu. Di dapur, Yati mendengarkan semua itu dari arah dapur. Wanita itu berhenti mencuci piring, menunduk sebentar, lalu menghela napas pelan sebelum kembali memutar keran air. Hari pertama kerja, sudah dapat majikan yang ribut, pikirnya. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa. Bukan urusannya. Di kamarnya, Ara duduk di tepi ranjang dengan tangan terlipat di d**a. Matanya menyipit ke arah pintu, seperti berharap pintu itu terbakar hanya dengan tatapan. Ponsel baru. Dirga bilang ponsel baru sedang di jalan. Ara tidak mau ponsel baru. Ia mau ponsel lamanya. Tapi Ara juga tahu. Untuk apa berdebat? Dirga bukan tipe orang yang bisa dimenangkan dengan teriakan. Bukan tipe yang peduli dengan apa yang Ara mau. Bukan tipe yang akan mengalah. Karena Dirga ingin menghukumnya dengan pernikahan ini. Ia berbaring, memeluk bantal yang tidak berbau seperti rumahnya. Dan di keheningan kamar yang asing itu, Ara berbisik pada dirinya sendiri, Aku akan bertahan. Sampai batas terakhir. Dan aku akan mengambil ponselku kembali. Dengan atau tanpa izin pria b******k itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN