Pagi itu, Mimi sudah bangun lebih dulu. Bukan karena rajin. Tapi karena kebiasaan lamanya: tidak bisa cuek pada orang sakit. Setiap melihat Irwan dengan kursi rodanya, pikirannya selalu melayang pada ayahnya dulu. Cara ayahnya duduk diam, pura-pura kuat, padahal jelas butuh ditemani. Sejak itu, Mimi punya refleks aneh, kalau lihat orang sakit, hatinya otomatis ikut repot. Maka pagi-pagi sekali, saat rumah masih sepi, Mimi sudah berdiri di depan Irwan. “Kak Irwan,” katanya ceria. “Udah sarapan? Kalau belum, nanti masuk angin.” Irwan mengangkat alis. “Ini rumah, bukan terminal.” Mimi tersenyum. “Justru karena rumah. Biar sehat, kita jemuran.” Irwan menatap kursi rodanya. “Jemur apa?” "Kak Irwan dijemur,” Mimi mengangguk mantap. “Ke halaman depan. Sinar pagi bagus. Bagus untuk

