Leon!” Panggilan itu menyadarkan Leon dari lamunannya. Isabel sudah berdiri di hadapannya. Seperti kebiasaannya dulu, ia menepuk bahu Leon dengan akrab-ringan, tanpa beban. Namun kini, sentuhan sederhana itu justru membuat d**a Leon bergetar hangat. Isabel ternyata belum berubah. Leon menatapnya sejenak, lalu tanpa sadar pandangannya bergeser pada pria asing yang sejak tadi setia berada di sisi Isabel. Lelaki itu terus membuntuti Isabel ke mana pun melangkah. Seketika, Leon teringat dirinya yang dulu. Saat masih bersama Sherly, ia justru menjaga jarak dengan Isabel. Bukan karena Isabel salah, tapi karena ia terlalu sibuk menyenangkan Sherly. Takut cemburu, takut ribut, takut kehilangan. Kini, rasa malu menyelinap di dadanya. Baru sekarang Leon benar-benar sadar, sejak menjalin kasi

