Mimi terdiam cukup lama. Pikirannya berputar pada satu pertanyaan yang sejak tadi mengganjal: mengapa kehadirannya seolah membawa keberuntungan bagi Isabel, tetapi tidak pernah bagi ayahnya maupun dia sendiri? Sejak kecil, ia selalu berharap bisa menjadi alasan senyum sang ayah, pembawa perubahan yang membuat hidup mereka lebih ringan. Namun kenyataannya berbeda. Ayah tetap terjebak dalam kegagalan demi kegagalan, seolah apa pun yang Mimi lakukan tidak pernah cukup untuk mengubah nasib itu. Sementara pada Isabel, segalanya tampak berjalan berlawanan. Setelah Mimi hadir dalam hidupnya, kesempatan demi kesempatan terbuka, pekerjaan yang diimpikan, pertemuan-pertemuan yang menentukan masa depan, bahkan keberanian untuk melangkah yang sebelumnya tidak pernah Isabel miliki. Mimi menunduk, da

