Bagi orang tua yang mencintai anaknya dengan sepenuh hati, kebahagiaan sang buah hati adalah segalanya. Begitu pula dengan Adi dan Tamara, hati mereka teriris dalam, membebani jiwa dengan penyesalan yang tak kunjung reda. Mereka pernah membiarkan Erika, putri kesayangan mereka, terperangkap dalam pernikahan yang lebih mirip neraka, sebuah keputusan yang mereka sesali setiap hari. Mereka menolak merestui pernikahan itu dan bahkan memilih memutuskan hubungan kekeluargaan, walau tanpa janji tertulis dan darah tetap mengalir di antara mereka. Semua itu terjadi karena egoisme yang membutakan mata dan mungkin, Erika sendiri tak luput dari kesalahan. Usianya yang masih muda kala itu membuatnya buta akan konsekuensi, nekat mengejar cinta tanpa mempertimbangkan resiko. Polos dan tak tahu mana yang

