Tepat di hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan, hari pernikahannya dengan Dania, wanita yang begitu ia cintai, semua berubah menjadi mimpi buruk yang tak terduga. Reno mendapati Dania tergeletak tak berdaya, perut calon istrinya itu ditikam benda tajam dengan cara yang mengerikan. Pelakunya? Tak seorang pun tahu. Satu-satunya saksi terakhir hanyalah Erika, sahabat yang menemui Dania dalam kondisi sudah seperti itu. Tapi, Dania tak menyebut nama Erika sebagai pelaku. Bahkan, dalam detik-detik terakhirnya, dia hanya meninggalkan satu pesan yang membingungkan, Erika dan Reno harus menikah.
Reno tenggelam dalam kebingungan dan kepedihan yang tiada bertepi. Hatinya menginginkan kebenaran, ingin menguak siapa yang telah merenggut nyawa Dania dengan kejam. Ayah Dania, yang begitu mencintai putrinya, mendesak agar pelaku segera ditemukan dan diadili. Namun di balik semua itu, Reno menyimpan rencana rahasia yang harus ia jaga rapat-rapat.
Untungnya, ibu tiri Dania pun memberikan dukungan, merayu suaminya dengan mengatakan jika hal ini tersebar ke kolega bisnis, karir yang sedang menanjak bisa hancur dalam sekejap. Dalam pusaran duka dan keraguan, ayah Dania terjebak di antara amarah, kehilangan dan perhitungan dingin yang harus ia jalankan demi masa depan di tengah misteri yang semakin membelit hidupnya.
Akhirnya, ayah Dania itu tak kuasa menolak desakan Reno. Mereka sepakat menyembunyikan semua rahasia, memastikan tak seorang pun tahu kebenaran yang sesungguhnya. Meski pernikahan resmi Dania ditunda, mereka memberi alasan ada masalah keluarga yang serius. Padahal di balik bisu hari itu, Dania telah dimakamkan dengan tenang.
Sore harinya, Reno menikah dengan Erika, sesuai permintaan Dania. Acara itu kecil, sunyi, hanya dihadiri keluarga dan beberapa saksi. Pernikahan mereka sederhana, namun sah, mengikat Reno dan Erika menjadi satu. Dalam hati, Reno menyimpan tekad membara, ia yakin Dania tidak akan menginginkan pernikahan ini tanpa sebab tersembunyi. Ia berjanji mencari kebenaran, menggali rahasia yang terselubung dalam diam.
Namun, waktu berlalu tanpa petunjuk sedikit pun. Pernikahan Reno dan Erika berjalan baik-baik saja, bahkan keduanya saling mencintai. Sampai segalanya berubah saat Bella, adik tiri Dania, kembali dari luar negeri setelah menaklukkan dunia modeling. Sosoknya yang kini dikenal banyak orang datang membawa badai; ia menghembuskan tuduhan yang menusuk Reno sampai ke tulang. Erika lah yang membunuh Dania. Tidak perlu bukti apapun. Cinta Erika pada Reno sejak SMA sudah lebih dari cukup untuk mengungkap niat wanita itu. Dia ingin Dania pergi, hanya supaya bisa menguasai Reno. Naasnya Reno percaya, tampa tahu kebenaran yang sesungguhnya.
"Mas, aku nggak mungkin bunuh Dania! Kamu juga tahu, dia sahabatku ...." Erika berusaha menahan napas, mencoba menjelaskan dengan suara bergetar.
PLAK!
Tapi tiba-tiba, tamparan keras dari Reno melesat ke pipinya, tajam, menusuk hingga menyakitkan.
"Tutup mulutmu! Mulai sekarang, aku tidak akan pernah percaya sepatah katapun darimu!" Suara itu keluar dari mulut Reno dengan kejam, penuh kebencian dan pengkhianatan. "Aku benar-benar bodoh sudah percaya dengan semua omong kosongmu. Jangan harap, aku akan berlaku baik padamu lagi! Kamu lihat saja nanti, kamu akan menanggung akibatnya!"
Dengan langkah berat dan penuh dendam, dia meninggalkan Erika dalam kepedihan yang tak terperi.
Erika tercekat dalam tangisnya, tersedu-sedu, seolah hatinya hancur berkeping-keping. Apakah pernikahan mereka akan berakhir hanya karena salah paham ini? Namun, di tengah keputusasaan, apa yang bisa dia lakukan selain menatap kosong ke arah masa depan yang tak pasti?
***
Hari-hari berlalu bagai musim dingin tanpa akhir. Erika tetap berusaha bersikap seperti istri yang tegar, namun hatinya remuk redam di balik senyum yang dipaksakan. Reno berubah menjadi sosok asing yang dingin, tak pernah lagi menyentuh makanan yang dibuatnya, tatapan suaminya itu penuh api kebencian yang membakar tiap butir harapan. Malam-malam mulai hilang tanpa jejak, entah di mana pria tersebut menghabiskan waktunya. Bahkan, kamar mereka terpisah, jarak semakin menjulang. Kesalahpahaman berlanjut, membelit erat, membuat hari-hari mereka seakan tenggelam dalam lorong gelap tanpa ujung.
Hingga suatu hari yang hening, pecah oleh langkah Reno yang pulang, tak sendiri. Di sisinya, Bella, dengan senyum penuh kepuasan yang menyakitkan hati Erika hingga menusuk tajam. Kebahagiaan mereka terpancar begitu nyata, membakar jiwa Erika dalam kobaran cemburu yang membutakan.
"Mas Reno, kamu dan Bella ... apa-apaan ini? Kalian tidak pantas seperti ini!" Teriakan Erika pecah, berusaha melepaskan tangan Bella yang menggandeng suaminya seperti milik sendiri.
Namun, dengan kasar Reno mendorong tubuh istrinya. Suaranya seperti petir menggelegar, "Jangan pernah sentuh kekasihku! Berani kamu menyakiti dia, kamu akan merasakan sendiri akibatnya!"
Ancaman itu menusuk Erika lebih dalam dari seribu luka, meninggalkan bayang-bayang pengkhianatan yang menggantung berat di udara. Dunianya runtuh dalam sekejap, dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak mampu ia lawan.
"Apa? Kekasih? Kamu benar-benar sadar dengan apa yang kamu katakan, Mas? Aku ini masih sah istrimu, tapi dengan terang-terangan kamu membawa wanita lain dan menyebutnya kekasihmu?" ujar Erika dengan suara bergetar, merasa tak terima. Dia menatap tajam, penuh amarah.
"Aku tidak peduli walaupun Kak Reno punya istri. Yang pasti, aku dan Kak Reno memang menjalin hubungan. Untuk apa status istri, kalau rasa cinta dan kasih sayangnya sudah beralih untukku, Erika." Bella membalas dengan senyum dingin dan sindiran menusuk.
"Kurang ajar! Dasar pelakor!" Erika mengangkat tangannya, siap menampar Bella.
Tapi Reno, lagi-lagi lebih membela selingkuhannya, dia menyambut tangan Erika dan menghempaskannya dengan kasar.
"Mas, kamu benar-benar sudah berubah total." Erika menahan air matanya, suaranya pecah penuh kecewa. "Aku rela kamu memperlakukanku dengan dingin karena salah paham, tuduhan yang tidak pernah aku lakukan. Tapi perlakuanmu kali ini? Ini sudah sangat keterlaluan! Kamu benar-benar tidak punya hati! Kamu lebih percaya dengan orang luar, dibandingkan istrimu sendiri?" ujarnya, tersenyum miris.
"Lalu kenapa? Terserah aku mau melakukan apa pun!" Suara Reno pecah penuh amarah, sorot matanya menyala. "Bella bukan orang asing, dia kekasihku! Kalau kamu tidak terima, silakan keluar dari rumah ini. Itu pun kalau kamu punya tujuan. Ingat, keluargamu sudah tidak menganggapmu lagi."
Senyum puas terukir di wajah Bella, menusuk seperti pisau ke dalam hati Erika.
Reno menatap Bella lembut. "Sayang, kamu baik-baik saja, 'kan?"
Bella menggenggam tangan Reno erat-erat. "Aku baik-baik saja. Tapi, aku takut, Sayang. Kalau sampai aku dibunuh seperti Kak Dania, bagaimana?" Katanya dengan suara bergetar dan mata penuh ketakutan.
Erika menghela napas, menahan amarah yang membara. "Aku tidak pernah membunuh Dania!"
"Siapa yang percaya? Semua orang bisa melakukan apa saja. Apalagi kamu sudah lama mencintai Kak Reno," sindir Bella tajam, menebar racun di setiap kata.
"Kamu tenang saja, hal itu tidak akan pernah terjadi. Aku akan selalu melindungimu." Reno menarik Bella ke dalam pelukannya dengan santai, menggendong wanita itu seolah dunia milik berdua saja. "Aku antar kamu ke kamar."
Di balik semua itu, Erika terpaku. Dia hanya bisa menyaksikan pengkhianatan Reno di depan matanya sendiri dengan hati teriris, sakit yang tak terucapkan menjalar dalam dadanya.
"Kamu benar-benar tega, Mas," gumam Erika dalam diam, sementara dunia di sekelilingnya berubah menjadi medan perang sunyi penuh luka.
Bersambung …