Bab 08. Bertemu Lagi

1063 Kata
Seorang pria tampan, bertubuh tegap dan tinggi, dengan mata bulat yang tajam dan kacamata tipis melangkah ke hadapan Erika dengan aura yang memikat. Tapi bukan keindahan fisiknya yang membuat jantung Erika berdebar kencang, ada bayang-bayang masa lalu yang kembali menyergap. Pria itu, Alvaro Aldebaran, bukan sekadar orang asing, dia adalah sosok yang pernah dekat dengannya, sahabat sejati kakaknya, yang lama menghilang tanpa kabar. Kehadirannya hari ini adalah seperti kilatan petir di langit tenang, mengagetkan dan penuh misteri. Wajahnya yang cerah berbalut senyum hangat menyapa, namun mata itu menyimpan rahasia yang tak mudah diungkap. "Apa kabar, Erika?" tanyanya lembut, mengoyak rasa rindunya. Erika tertegun sejenak, lidahnya kelu, hatinya beradu antara rasa bahagia dan kejut yang mendalam. "Aku baik, Kak. Kamu sendiri, gimana kabarnya?" Suaranya bergetar sedikit, penuh keharuan. "Kapan kamu balik dari luar negeri?" Tiba-tiba, sebelum mereka sempat saling bertukar cerita, Rey segera memotong, "Tunggu dulu. Kalau kalian mau kangen-kangenan, berdua saja, ya. Aku harus pergi sekarang karena ada yang urgent." "Ya sudah, silakan pergi. Tenang saja, aku yang akan mengantar Erika pulang dengan selamat, sampai di depan pintu rumah," ujar Alvaro dengan suara yang penuh ketegasan, seolah dunia sedang menantinya di ujung langkahnya. "Oke, harus hati-hati. Jangan sampai adikku luka sedikit pun. Aku pasti akan mencarimu sampai ke ujung dunia," tegas Rey sambil tersenyum tapi tak main-main dengan ucapannya. "Kak Rey, apa-apaan sih? Cepat sana pergi, hati-hati, ya," ucap Erika, sebelum kakaknya berbicara lebih banyak lagi. Rey hanya mengangguk, lalu buru-buru melangkah ke parkiran mobil, menghilang seperti bayangan yang menguap di kejapan mata. "Aku lega sekaligus senang, Er. Akhirnya kita bisa bertemu lagi. Sudah seminggu aku kembali ke Indonesia karena ada urusan pekerjaan di sini." Alvaro mengungkapkan hal itu apa adanya, rasa bahagia membuncah dalam dadanya. "Aku juga senang bisa bertemu kamu lagi, Kak. Dua tahun yang lalu, Kak Al tiba-tiba saja pergi, tepat di saat aku dan Reno menikah mendadak. Aku pikir, kamu juga marah, sama seperti keluargaku karena Kak Al sahabat Kak Rey. Setelah itu, kita juga nggak pernah saling kontak lagi, apalagi bertemu," ujar Erika dengan suara bergetar, tatapannya sendu. Alvaro terdiam sejenak, lalu mengangkat wajah penuh penyesalan. Suaranya terdengar perlahan tapi penuh kekuatan, "Aku nggak punya hak untuk marah, Er. Aku memang harus pergi saat itu, ada urusan mendadak yang mengharuskan aku keluar negeri dan aku nggak bisa menolak. Aku minta maaf, ya." "Kenapa harus minta maaf, Kak?" tanya Erika dengan nada lembut. "Kamu nggak salah apa-apa. Justru aku yang sudah membuat kesalahan besar." Dia menarik napas dalam-dalam, lalu melanjutkan ucapannya, "Tapi syukurlah, sekarang Kak Al sudah kembali. Kamu pasti sudah dengar 'kan, dari Kak Rey?" tanyanya lirih, merasa malu. Alvaro mengangguk perlahan. "Ya. Tapi kamu nggak perlu membahas soal itu. Aku tahu, kamu pasti nggak nyaman, 'kan? Anggap saja aku nggak tahu apa-apa. Sekarang, ayo aku antar kamu pulang." Erika tersenyum lemah. "Terima kasih, Kak," ucapnya seraya tersenyum tipis. "Selalu, Erika," sahut Alvaro dan membalas senyuman itu. Keduanya langsung menuju ke mobil. Alvaro membuka pintu dan mempersilakan Erika masuk. Setelah itu, dia menyusul dan menyalakan mesin mobil, lalu meninggalkan tempat tersebut. * Saat berada di perjalanan, Erika yang merasa bingung mendadak bertanya, "Kok bisa sih, tiba-tiba saja Kak Al datang jemput aku? Waktunya pas banget." "Itu hanya karena kebetulan aku sedang berada di daerah sini. Aku kirim pesan ke Rey dan menanyakan keberadaannya, tiba-tiba dia langsung minta aku datang ke sini dan meminta tolong untuk mengantar kamu pulang," jawab Alvaro dengan suara setenang mungkin, tampak seperti ada yang disembunyikannya. "Oh, gitu. Bisa kebetulan banget ya, Kak? Tapi maaf ya, kalau aku jadi merepotkan. Padahal aku bisa pulang naik taksi online, aku sudah terbiasa," ucap Erika, merasa tidak enak. "Nggak apa-apa, Er. Kamu ini seperti sama orang asing saja. Aku sama sekali nggak keberatan, malah aku merasa senang," kata Alvaro sambil tersenyum tulus. Mereka berdua saling tatap, senyuman keduanya menebar kehangatan di tengah suasana yang mulai mencekam. *** Sementara itu, sepanjang rapat tadi Reno merasakan denyut tak nyaman di dadanya. Meski semua berjalan lancar dan tak ada masalah berarti, gelombang kecemasan tetap mendera. Kepalanya penuh dengan bayangan istrinya yang entah sedang berada di mana, tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Pesan yang dikirimkannya hingga kini tetap tak berbalas. Jantungnya berdegup keras, nyaris pecah oleh kekhawatiran yang menggerogoti hati. Ia tahu, ada sesuatu yang tak beres, sesuatu yang membelenggu hati dan pikirannya, tapi ia tak mampu mengungkapkan apa. Hanya rasa takut dan cemas yang terus mendera, menunggu kabar yang tak kunjung datang dari sang istri. "Di mana sebenarnya Erika sekarang? Apa yang sedang dia lakukan? Kalau memang dia marah, biasanya paling lama hanya bertahan dua jam. Tapi ini sudah hampir setengah hari. Apa yang sebenarnya terjadi? Lihat saja nanti, aku akan memberimu pelajaran saat kita bertemu di rumah," gumam Reno dalam hati dengan napas berat. "Kamu yang melakukan kesalahan, tapi kenapa kamu malah bersikap seperti ini?" lanjutnya dengan emosi. Dia menaruh ponsel di atas meja, mencoba memaksa diri untuk fokus bekerja. Namun tiba-tiba ponselnya berdering, membuatnya langsung menjawab tanpa melihat siapa yang menelepon. "Erika, kamu di mana? Kamu sudah merasa hebat, main pergi begitu saja dan tidak membalas pesanku. Apa sebenarnya maumu?" Suara Reno keluar tajam, menahan rasa frustasi. Tapi suara yang menyahut bukanlah suara Erika, seperti dugaannya. "Kak Reno, kenapa kamu marah-marah? Lagi pula, aku bukan Erika, Kak," jawab suara itu dengan nada kesal. Reno terdiam sejenak, mencoba memahami. "Memangnya kamu tidak lihat dulu siapa yang telepon?" kata wanita itu lagi. Jantung Reno berdegup lebih kencang saat dia menatap layar ponsel, menyadari sang penelepon bukanlah Erika, melainkan Bella. "Maaf, aku memang tidak melihatnya dulu. Aku pikir, kamu Erika," ucap Reno dengan suara yang agak ragu. Bella langsung merasa kesal. "Jadi sekarang kamu lagi memikirkan dia? Kamu khawatir dia kenapa-napa? Kenapa kamu nggak cari dia saja dan jangan hubungi aku lagi!" Reno bisa merasakan kepahitan di balik kata-kata Bella. "Bella, jangan seperti itu," bujuknya pelan, berusaha meredakan ketegangan. "Aku minta maaf. Aku hanya tidak suka dengan caranya kabur-kaburan seperti itu, tapi itu bukan berarti aku sedang memikirkan dia." "Oke, aku percaya. Tapi sebentar lagi waktunya makan siang. Aku nggak mau tahu, kamu harus jemput aku dan kita makan di luar." Suara Bella terdengar tegas dan memaksa, seperti ingin mengalihkan perhatian dari masalah yang sebenarnya. Dengan terpaksa Reno setuju, walau hatinya masih berkecamuk. "Ya sudah, tunggu saja. Sebentar lagi aku akan menjemputmu," jawabnya sambil menggenggam ponsel erat-erat. Di dalam hatinya , kemarahan membuncah. "b******k! Kenapa wanita ini selalu mengendalikanku?!" umpatnya. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN