Meskipun sudah berada di kamarnya, bayangan Rey terus menghantui pikiran Sasa tanpa henti. Selama ini, ia memang mudah terpikat pada seseorang, apalagi pria tampan yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Awalnya hanya sekadar kekaguman biasa, tapi kali ini berbeda. Sikap Rey yang hangat, cara mata pria itu menatap penuh arti, seolah tanpa sadar berhasil menyusup jauh ke dalam hatinya. "Apa mungkin, aku benar-benar jatuh cinta sama Mas Rey, kakaknya Mbak Erika?" gumam Sasa dengan campuran bingung dan takut. "Tapi, aku dan Mas Rey itu beda level. Lagi pula, mana mungkin sih, Mas Rey yang katanya belum pernah berpacaran, mau melirik wanita biasa seperti aku? Aku ini siapa sampai dia memiliki perasaan lebih untuk aku?" lanjutnya, matanya menatap kosong ke langit-langit kamar. Keraguan itu mengg

