Di depan mata Erika, Reno tersenyum manis, senyum terbaik yang dulu pernah membuat hatinya meleleh, jatuh berkali-kali tanpa henti. Tapi kini, senyum itu berubah menjadi sesuatu yang asing dan menyakitkan, seolah menyembunyikan racun di balik manisnya bibir pria itu. Tak hanya itu, di dalam rumah menunggu kejutan yang telah Reno siapkan. Ucapan selamat datang, dekorasi meriah seperti pesta ulang tahun yang dulu membuat Erika merasa bahagia tanpa syarat. Namun saat ini, semua itu tidak membangkitkan sedikit pun kehangatan di d**a Erika. Justru sebaliknya, hawa nostalgia itu berbalik menjadi rasa jijik yang merayap hingga ke tulang. Wajahnya dingin, tanpa emosi dan tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Erika melangkah perlahan menuju Reno, yang juga bergerak ke arahnya, seolah ingin

