Gelap ialah hal yang pertama Jemma rasakan saat kelopak matanya terangkat perlahan. Pandangan kabur lengkap dengan kepala pening. Ruangan ini jelas tak ia kenali. Aroma lembap, dingin menyusup ke kulit, dan cahaya yang nyaris tak ada selain dari celah kecil dari kaca ventilasi di bagian atas. Sisanya bahkan tidak ada jendela. Perlahan, tubuhnya yang masih berat coba bergerak. “Ssthhh!” ia meringis perih. Tangan kanan masih terasa kebas, terikat. Napasnya sesak, tapi ia menahan suara. Ia tahu... bukan hanya dirinya di tempat ini. Ada seseorang yang berbahaya untuknya. Panik mulai menjalar di d**a, membuat ia kesulitan bernapas. “Di mana ini? Aku di bawa ke mana?!” gumamnya. Ia menatap sekeliling lagi sembari tiba-tiba kenangan datang seperti gelombang pasang yang menabrak. Akhirnya ia

