Malam tiba, meski tubuhnya lelah dan mata terasa berat, Jemma tetap sulit terlelap padahal dokter memintanya mengelola pikiran dan istirahat cukup. Lihat lah ia yang hanya berbaring dalam gelap kamar tamu di rumah Ibu, mendengarkan detak jam di dinding dan suara angin dari luar jendela. Bukan karena tempat ini tidak nyaman—justru sebaliknya, rumah ini hangat dan penuh penerimaan yang menenangkan. Tapi pikirannya tak bisa diam. Ia terus kembali pada satu titik yakni keluarganya. Situasi yang begitu rumit bagai benang kusut yang membuat Jemma bingung untuk mulai mengurainya. Wajah Mamah muncul dalam pikirannya. Kata-kata tajam, ekspresi kecewa, dan sikap dingin yang seolah membekas begitu kuat di ingatannya. Rasanya sakit. Lebih dari sakit—seperti luka yang belum sembuh, lalu terus-menerus

