Pagi-pagi seharusnya identik dengan kata ‘tenang’. Tapi tidak di rumah kecil keluarga ini. Tidak ketika Safa berusia sepuluh bulan—masa di mana ia ingin tau semua hal, merangkak kemana saja, memungut apa saja, dan menolak duduk diam lebih dari lima detik. Dan tidak ketika menu sarapan pagi itu seharusnya simpel—roti panggang, telur ceplok, potongan alpukat, dan jus jeruk segar—namun berubah menjadi seperti medan uji coba senjata dapur. *** Ben menelungkup di karpet kamar, menemani Safa yang bolak-balik naik ke punggungnya. Niatnya ingin tidur lagi, berhubung mengolah otot selama 45 menit cukup menguras tenaga. Masalahnya, mustahil terlaksana jika bayi mungil berparas mirip dengannya itu justru sudah aktif sejak satu jam yang lalu. Anne baru saja selesai dengan rutinitas pembuka hari.

