TENDAAN LAGI

1614 Kata

Hujan mulai turun sejak sore. Dimulai dengan gerimis tipis dan langit yang masih cerah. Lalu berubah menjadi hujan deras tanpa aba-aba, langit pun seperti gelap seketika. Angin tak ingin kalah, bertiup kencang, menguji kekuatan kanopi dan pepohonan. Gemuruh pun ikut memeriahkan. Tepat setelah Isya, suhu udara turun, listrik padam—yang kali ini entah apa sebabnya. Syukurnya, stok gas aman. Genset aktif, lampu-lampu rumah kembali menyala, hanya kali ini meredup di mode hemat. Anne menoleh ke Ben. “Déjà vu banget.” Ben mengangguk, lalu menaik turunkan alisnya berkali-kali. Anne terkekeh. “Kamu bisa baca pikiranku, kan baby?” Mereka saling menatap sejenak—dan tanpa bicara panjang, Ben bangkit menuju gudang kecil mereka. Tenda itu, yang dulu mereka dirikan karena listrik padam, kembali d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN