Fitri mengetuk pintu kamar Lara perlahan tapi kuat. Sikap Lara yang memeluk Bisma barusan membuat Fitri kesal. Ia sudah menduga Lara sengaja melakukan hal itu agar membuatnya kesal, karena Reno.
Pintu kamar pun terbuka, lalu terlihat Lara dengan raut wajah dingin menatap Fitri dalam, begitu pula dengan Fitri. Biasanya kedua gadis itu terlihat sangat akur dan akhir, tapi kali ini mereka seperti musuh bebuyutan.
“Ada apa?” tanya Lara pendek.
“Tolong jaga sikapmu. Bagaimanapun pak Bisma atasanku, aku tak ingin dia berpikiran buruk tentangmu, karena kita satu keluarga,” tegur Fitri.
“Sikapku yang mana?” balas Lara lagi.
“Seperti sikapmu barusan yang memeluk dia sembarangan seperti itu! Kamu pikir bisa menggodanya dengan cara seperti itu? Nggak! Dia gak suka perempuan agresif kaya kamu!”
“Trus sukanya perempuan lembut munafik seperti kamu begitu?!”
“Lara! Aku tahu kamu bersikap begini pada pak Bisma untuk membalasku bukan?! Aku ngerti kalau kamu marah karena Reno melamarku, akan aku putuskan pertunangan ini Lara…”
“Akh! Stop dengan semua ucapanmu! Kamu tahu apa yang membuatku sangat marah sama kamu? Karena kamu pasti sudah tahu dari dulu kalau Reno menyukaimu, bukan aku! Tapi kamu biarkan aku seperti orang g****k yang terus merasa diberi harapan! Aku memang bodoh tak bisa melihat tanda dari hubungan kalian, atau kalian yang terlalu rapi untuk bermain api dibelakangku! Urusanmu mau putus sama Reno atau tidak bukan urusanku dan aku juga sudah tidak tertarik lagi padanya! Aku bukan gadis bodoh yang akan mengemis perasaan pada pria!” potong Lara tak bisa menahan emosinya melihat sikap Fitri yang seolah bersedia berkorban untuknya.
“Tolong jangan bersikap agresif pada pak Bisma! Dia gak suka perempuan agresif!” ucap Fitri mengingatkan.
“Kalau kamu tahu dia gak suka, kenapa khawatir?!” balas Lara.
“Ada apa ini?!” suara Ajeng terdengar keras menegur kedua cucunya yang tengah bertengkar.
Lara menoleh dan melihat dibelakang Ajeng juga ada Wita dan Frida membuatnya semakin jengah karena dua orang itu adalah ibu untuk Fitri.
“Fitri gak suka aku dekat - dekat sama mas Bisma, Eyang!” celetuk Lara sinis.
“Bukan begitu! Aku hanya menegur sikap Lara yang agresif pada mas Bisma,” ucap Fitri tampak gelagapan.
“Ayo kita bicara baik - baik,” ajak Frida dengan suara lembut sambil menghampiri Lara.
“Jangan sentuh aku!” bentak Lara spontan menjauhi Frida yang hendak menyentuh lengannya, mencoba menenangkan Lara seperti biasanya ketika Lara sedang sedih atau galau.
Frida tertegun melihat Lara yang menatapnya penuh kebencian. Hatinya merasa sangat tidak enak.
“Lara! Yang sopan bicara dengan tantemu!” tegur Ajeng marah dengan ucapan Lara yang tampak kasar pada Frida.
“Sudah bu, tidak apa-apa, Lara sepertinya sedang emosi, ia tak menyadari ucapannya” ucap Frida langsung mencoba menenangkan Ajeng yang terkenal tegas dan galak.
“Tidak bisa begitu! Sebesar apapun masalahnya, tetap dia harus tahu sikap! Tak bisa hanya karena emosional lalu jadi reaktif gak karuan! Ada apa sebenarnya?! Ada apa dengan Bisma?!”
“Maafkan kami Eyang, kami mohon maaf karena bertengkar malam-malam, kami sudah tidak apa-apa kok. Iya kan, Ra?” ucap Fitri segera minta maaf dan mencoba menenangkan Ajeng agar ia dan Lara tak perlu lagi membahas tentang Bisma pada Ajeng.
Tapi Lara hanya diam dan menatap 4 wanita dihadapannya dengan pandangan dingin sebelum akhirnya ia menutup pintu tanpa bicara apa-apa lagi.
“Dasar anak kurang ajar! Lara buka pintunya!” bentak Ajeng marah karena sikap Lara.
Di dalam kamar Lara hanya diam, dan terduduk lemas sambil bersandar dipintu. Air matanya mengalir bukan karena ia merasa sedih tetapi ia menahan amarah yang begitu besar. Masih terdengar caci maki Ajeng dari balik pintu yang ditujukan untuknya tetapi ia tak peduli, apapun yang ia katakan tak akan membuat semua orang percaya padanya.
***
Fitri tersenyum senang dan mengucapkan terimakasih ketika Bisma membukakan botol minuman untuknya. Atasannya ini memang sangat perhatian bahkan pada hal-hal kecil.
Seperti saat ini ketika mereka sedang visit ke salah satu site client melihat proyek, Bisma tidak sungkan untuk menjaganya dan salah satunya dengan memberikan air minum sampai membukakan botolnya untuk Fitri.
“Makasih ya pak,” ucap Fitri.
“Hari ini panas sekali, jangan sampai kamu dehidrasi karena masih akan mengunjungi site yang lain,” ucap Bisma sambil meneguk air minumnya sendiri.
“Setelah ini kita makan siang dulu pak Teguh, setelah itu Fitri bisa kembali ke kantor, kasihan kalau dia berlama-lama disini, tempatnya kurang nyaman,” ucap Bisma pada salah satu bawahannya yang juga satu tim dengan Fitri. Apalagi saat ini Fitri hanya perempuan satu - satunya yang ikut dalam acara kunjungan site.
Mendengar hal itu Fitri hanya bisa menundukan kepalanya sesaat dan pura - pura menyibukan diri. Tentu saja di dalam hatinya ia merasa senang, kadang dadanya sering berdegup kencang dengan perhatian-perhatian kecil yang Bisma berikan padanya. Apapun maksudnya itu, ia menjadi semakin kagum pada atasannya.
“Pesan saja apapun yang kalian suka,” suruh Bisma ketika ia dan timnya masuk ke salah satu restoran chinese food yang fancy.
Fitri sengaja jalan paling akhir seolah menunggu sesuatu, dan benar saja Bisma pun berdiri paling akhir seolah menunggunya untuk duduk bersama.
“Udah cocok jadi istri kamu, Fit, “ goda Wisnu salah satu anggota tim yang ikut bersama mengunjungi site.
“Apaan sih mas Wisnu!” Fitri tampak malu ketika dia digoda seperti itu.
“Itu buktinya, pinter banget milihin makanan dan lihat kamu ngelayanin pak Bisma jadi pengen nikah dua kali,” goda Wisnu dan diikuti gelak tawa yang lain.
Bisma hanya tersenyum dan memandang Fitri dengan pandangan teduh, andai saja perempuan ini belum ada yang memiliki sudah pasti ia ingin mendekatinya.
Tiba-tiba Bisma tertegun, ketika melihat gambar bunga-bunga kecil yang cantik di casing handphone Fitri.
Bunga warna - warni itu mengingatkan dirinya dengan lukisan bunga-bunga yang berada diantara seorang wanita. Lukisan itu berjudul Ophelia. Dan tentu saja membuat Bisma jadi teringat dengan salah satu gadis pemilik nama Ophelia. Lara.
“Apa kabar sepupu kamu? Lara,” tanya Bisma tiba-tiba sambil menyuap makananya dan membuat Fitri tersedak.
Sudah dua minggu berlalu sejak kejadian pertengkarannya dengan Lara dan sejak itu juga mereka tak saling menyapa dan berkomunikasi. Bahkan akhir - akhir ini ia juga tak pernah bertemu dengan Lara.
“Kami sedang jarang bertemu, tapi dia baik-baik saja,” jawab Fitri perlahan sambil tersenyum pada Bisma.
Pria itu hanya mengangguk angguk dan kembali menatap casing handphone Fitri lalu berkata,
“Nanti malam ada open house toko bunga ibuku, kamu mau datang?”
“Ohya?! Ibu Laila buka toko bunga baru? Mau pak! Tapi apa benar boleh?” tanya Fitri antusias.
“Kita bisa datang bersama. Eyang Ajeng juga diundang kok, katanya juga mau datang.”
“Baiklah!”
Bisma tersenyum, d**a nya terasa berdegup ketika melihat senyuman manis Fitri. Entah mengapa walau ia tahu gadis ini sudah ada yang memiliki tapi ia merasa tak ingin jauh.
Bersambung.