Bab 11. Gencatan Senjata

1398 Kata
“Selamat pagi,” sapa Bisma saat melewati cubicle Fitri. “Bapak,” sapa Fitri perlahan sembari berdiri menatap Bisma dengan tatapan sedih. Bisma tersenyum kecut saat melihat wajah Fitri yang pucat dengan mata yang sembab. Mereka baru saja beberapa jam berpisah dan kembali bertemu setelah kejadian malam tadi. “Ayo ke ruanganku,” ajak Bisma pada Fitri. Gadis itu segera mengikuti langkah Bisma untuk masuk ke dalam ruang kerja Bisma. “Bagaimana keadaan rumahmu pagi ini? Apa kamu baik-baik saja?” tanya Bisma khawatir. Fitri duduk perlahan didepan meja kerja Bisma dan menatap pria itu dengan pandangan nanar. “Suasana rumah rasanya canggung sekali, Lara pagi - pagi sekali sudah berangkat kerja. Aku tak ada kesempatan untuk bicara dengannya,” ucap Fitri perlahan sambil menundukan kepalanya. Bisma hanya diam. “Maafkan aku ya pak. Aku tahu bapak bersikap begitu untuk membelaku. Aku sudah memikirkannya semalaman, sepertinya aku akan memutuskan hubunganku dengan mas Reno pak. Jika aku putus mungkin Lara…” “Jangan!” potong Bisma cepat sebelum Fitri menyelesaikan bicaranya. “Kamu tak perlu lakukan itu. Ini semua hanya salah paham dan asumsi Lara yang berlebihan. Ia berpikir kita memiliki perasaan lebih satu sama lain, padahal kita dekat karena kita memiliki hubungan keseharian sebagai satu tim di dalam pekerjaan dan hubungan itu kita anggap wajar karena bagaimanapun kita juga keluarga jauh.” Fitri tampak tertegun mendengar ucapan Bisma. “Ia masih patah hati saja karena Reno ternyata memilihmu seperti kamu memilih Reno. Melihat kita dekat, dia jadi berpikiran yang tidak-tidak. Sudah, jangan dipikirkan ya. Aku juga minta maaf karena sudah bersikap berlebihan. Aku juga harus minta maaf pada Lara, karena bagaimanapun aku membuat seisi rumahmu salah paham tentangnya.” Bisma menatap Fitri dalam dan melihat mata gadis ayu itu tampak berkaca-kaca. Fitri yang biasa tampil percaya diri dan riang kini tampak terluka, raut wajahnya tak bisa menyembunyikan isi hatinya ketika mendengar ucapan Bisma bahwa mereka tak ada hubungan lebih. Fitri segera menundukan kepalanya dan tersenyum perlahan. Bisma memalingkan wajahnya sesaat tak ingin Fitri mengetahui isi hatinya saat ini. Sebagai pria dewasa ia juga bisa mengetahui bahwa Fitri memiliki perasaan lebih untuknya. Perhatian Fitri dan kesempatan mereka menghabiskan waktu berdua memang sangat menyenangkan untuk Bisma. Tetapi mendengar Fitri hendak melepaskan Reno dan berharap bisa bersama dengan dirinya, Bisma tak bisa. Ia masih ingin bebas dan menikmati waktu lajangnya, sedangkan ia melihat Fitri adalah gadis baik-baik yang hanya berharap mendapatkan pria yang menyayanginya untuk bisa hidup bersama sampai akhir hayat. Ia belum bisa memberikan harapan itu pada Fitri. “Akh, sebentar lagi kita harus meeting internal pak, aku ijin pamit dulu ya, mau mempersiapkan materi meeting nanti,” ucap Fitri tiba-tiba mencoba mencairkan kecanggungan mereka. Bisma hanya menganggukan kepala dan membiarkan Fitri berjalan meninggalkan ruangannya. Waktu pun berlalu tanpa terasa. Fitri dan Bisma menghabiskan waktu dan pikiran mereka pada pekerjaan untuk mendapatkan project terbaru mereka. Bisma menyadari bahwa perutnya terasa sangat lapar karena belum terisi dari siang sedangkan waktu sudah menunjukan pukul 6 sore. Ia segera bangkit dan membereskan mejanya. Hari ini ia ingin pulang lebih cepat karena ingin makan malam sendirian dan melakukan sesuatu. “Loh, bapak mau kemana? Bukannya kita mau meeting dan lembur lagi malam ini?” tanya Firman ketika melihat atasannya keluar dari ruangan sudah rapi bersiap untuk pulang. “Besok saja, hari ini lebih baik kita semua pulang lebih cepat. Malam ini ada urusan lain yang harus saya selesaikan,” jawab Bisma sambil mencantol ransel laptopnya lalu berpamitan pada semua bawahannya. Fitri hanya bisa menundukan wajahnya saat Bisma kali ini melewati cubiclenya tanpa menoleh padanya. Ada perasaan sedih dan patah hati yang terasa di hati gadis itu karena Bisma. *** Lara melangkah dengan perasaan sungkan saat memasuki kembali rumah besar Ajeng dimana ia tinggal saat ini. Rasanya ia tak sabar menunggu bulan depan tiba sehingga ia memiliki tempat baru untuknya tinggal. Setelah kejadian tadi malam, hatinya semakin mantap untuk meninggalkan kediaman Ajeng. Bahkan ia berpikir untuk tidak akan pernah kembali menginjakan kaki ke rumah neneknya itu. “Assalamualaikum,” ucap Lara memberikan salam saat ia masuk. “Waalaikumsalam,” balas seseorang. Lara menoleh pelan dan melihat Reno yang tengah berdiri di dekat jendela yang membalas salamnya. “Kamu disini? Sudah bertemu Fitri?” tanya Lara basa - basi tak bersemangat. Hati dan tubuhnya sudah terlalu lelah untuk tetap bersikap tegar dan tenang. “Sudah, ia sedang membersihkan diri. Kami juga baru sampai dan tante Frida mengajak kami makan malam bersama,” jawab Reno sambil berjalan perlahan mendekati Lara. Pria itu menatap wajah Lara dalam. Wajah cantik di hadapannya tampak sendu, tak ceria seperti biasanya saat mereka masih sering bersama. “Oh, baiklah. Aku pamit dulu ya,” ucap Lara segera berpamitan ketika Reno melangkah semakin dekat. “Lara, tunggu,” cegah Reno cepat saat Lara hendak berjalan meninggalkannya. Lara menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Reno menunggu pria itu meneruskan ucapannya. Reno menghela nafas panjang, menatap wajah Lara yang menatapnya dengan pandangan kosong dan sedih. “Maafkan aku … aku tak bermaksud melukai hatimu,” ucap Reno perlahan. Tentu saja Reno tahu bahwa Lara memiliki perasaan untuknya, toh sebelum bertemu Fitri, Reno memang berniat untuk mendekati Lara sebagai kekasihnya. Dikenalkan oleh teman, melihat Lara yang cantik dan periang membuat Reno jatuh hati. Saat Reno datang dan dikenalkan ke dalam keluarga Lara yang ternyata keluarga teman dekat Eyangnya membuatnya semakin yakin untuk mendekati Lara. Tapi siapa yang menyangka ia akan jatuh cinta pada perempuan anggun yang memainkan piano saat mereka makan malam bersama. Perempuan itu bernama Fitri. Mendengar cerita Fitri tentang Lara akhir-akhir ini membuat Reno merasa bersalah. Seharusnya dari dulu ia menunjukan perasaannya pada Fitri sebelum Lara jatuh cinta semakin dalam. Sedangkan Lara hanya bisa diam mendengarkan ucapan Reno. Ingin rasanya ia bertanya mengapa Reno tak jujur dari dulu? Mengapa ia selalu memberikan harapan? Tapi untuk apa hal itu kembali dibahas, toh, tak akan membuat keadaan menjadi lebih baik, hanya akan menumpuk rasa bersalah dan penyesalan. Lara baru saja akan menjawab, tetapi terhenti saat pintu utama rumah itu terbuka. Lara dan Reno segera menoleh ke arah pintu melihat Bisma yang masuk membawa sesuatu. Bisma pun tampak terkejut karena tak menyangka melihat Lara dan Reno di tempat yang sama. “Ck! Dia lagi!” umpat Lara tak percaya melihat musuh bebuyutannya datang. Reno pun tampak terkejut, karena hampir setiap hari ia datang dan hampir setiap hari dalam beberapa hari ini ia bertemu dengan Bisma. “Aku perlu bicara denganmu,” ucap Bisma segera menarik tangan Lara menutupi rasa canggungnya dihadapan Lara dan Reno. “Mau apalagi?” tanya Lara sebal sambil melepaskan tangan Bisma dari tangannya ketika mereka sudah berada di depan teras. “Ayo kita bicara, sebentar saja,” pinta Bisma dengan suara lembut sedikit memohon. “Gak!” balas Lara dingin sambil melipat tangannya. Bisma hanya bisa mendengkus keras, lalu kembali menarik tangan Lara untuk masuk ke dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana. “Kalau mau bicara disini saja! Aku gak mau kemana-mana!” ucap Lara cepat menatap Bisma tajam lalu memalingkan wajahnya keluar jendela. Bisma mengangkat kedua tangannya tanda setuju lalu menghidupkan ac mobil agar mereka bisa bicara dengan nyaman. “Aku mau minta maaf sama kamu untuk kejadian kemarin. Tolong terima ini, maaf ya,” ucap Bisma perlahan sambil memberikan paper bag kecil pada Lara. Lara masih diam ketika Bisma meletakan paper bag itu di pangkuan Lara karena Lara tak ingin menerimanya. “Ayo dibuka,” bujuk Bisma sambil mengeluarkan isi dari paper bag itu. Lara hanya memandangi benda yang ada di pangkuannya. Sebuah handphone yang masih dalam kotak, merk terkenal, edisi terbaru yang dengan uang gajinya entah kapan ia bisa membeli handphone seperti ini. Seharian ia tak menggunakan handphone sama sekali, karena masih di service. “Aku minta maaf atas sikapku kemarin, handphonemu sampai rusak gara-gara aku,” ucap Bisma lagi kali ini dengan suara lembut dan terdengar tulus. Lara hanya diam lalu perlahan ia mengembalikan kotak handphone itu ke tangan Bisma. “Gak usah mas minta maaf mas, dan kamu tak perlu menggantinya, toh aku juga yang menjatuhkan handphone ku sendiri. Ck! Tadi pagi aku merasa sakau karena tak bisa berkomunikasi bahkan memesan kendaraan pun tak bisa. Tapi akhirnya aku menikmati waktuku yang sepi. Kerjaan cepet beres, gak ke distrack sama sosmed, bahkan aku tak memiliki keluhan penyesalan karena impulsif membeli barang,” gumam Lara seolah bicara pada dirinya sendiri. Lara segera menggeliat merenggangkan tubuhnya sekuat mungkin sampai menggeliat sebelum akhirnya ia menatap ke arah Bisma. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN