Bab 16. Saatnya ku mengenalmu

1399 Kata
“Mas, aku pake celana pendek kotak-kotak ini saja, lebih muat untukku,” ucap Lara sambil memamerkan celana pendek kotak - kotak yang ia pakai pada Bisma yang tengah terbaring pasrah di atas ranjangnya. “Celana boxer itu celana dalamku, kamu gak lihat apa kalau ada bolongan di tengah?” jawab Bisma malas sambil mengangkat kepalanya sedikit ke arah Lara yang tengah mengacak-acak isi laci pakaian dalamnya. “Haissh!” gumam Lara cepat sambil melepaskan celana yang baru ia pakai dan melemparkannya asal ke dalam laci, lalu kembali mengaduk - aduk isi laci pakaian Bisma. Bisma hanya bisa menghela nafas panjang, menatap langit-langit kamar nya nanar. Waktu masih menunjukan pukul 11 pagi, seharusnya saat ini ia tengah makan-makan acara lamaran Rico, bersenda gurau sambil melirik wanita-wanita cantik teman Arina. Kenyataannya, kini ia berada dikamar bersama seorang wanita, walau cantik tapi tak punya rasa malu. Tak jauh dari ranjangnya, ada Lara yang hanya mengenakan kaos kebesaran miliknya tanpa mengenakan celana, karena terlalu longar. Gadis itu tengah asik membongkar isi lemari Bisma untuk mencari pakaian yang bisa dipakai. Bisma sampai istighfar berulang kali saat tak sengaja melihat Lara yang jongkok, berdiri dan nungging membelakangi dirinya tanpa sadar. Bisma menghela nafas panjang sambil memijat keningnya. Lara tampak tak peduli dengan perasaannya yang dongkol karena dianggap tak menarik. Sepertinya Lara benar-benar lupa kalau Bisma laki-laki normal yang bisa ‘pusing’ lihat kaki panjang, jenjang, putih mulus… Aggh! Bisma segera duduk dari tidurnya dengan wajah kesal karena jadi membayangkan lekuk tubuh Lara. Saat ini Lara yang sedang mencoba ikat pinggang miliknya dengan santai. “Kalau pake ikat pinggang gini bisa terlihat seperti pake dress pendek gak sih mas? Nggak ya?” oceh Lara meminta pendapatnya. Bisma hanya menghembuskan nafas dan segera memeluk guling. Sejak pertama kali bertemu Lara, pasti ada saja kejadian di antara mereka. Biasanya, sebuah ciuman akan begitu berkesan, tapi dengan Lara, mereka malah berciuman ketika sedang bertengkar. Bahkan, gadis itu juga setengah telanjang tadi pagi! Setiap bertemu mereka selalu saling menyentuh! Bisma jadi teringat gigitan Lara dan membuatnya kembali kesal. Bibir itu terasa begitu lembut, dan harum tubuh Lara menggoda imannya walau kelakuannya gila. Bisma meremas gulingnya erat, ketika merasakan tubuh bagian bawahnya mulai mengeras. “Mas! Jangan tidur! Ayo anterin aku pulang! Udah sembuh, kan?!” Bisma segera mengangkat kepala lalu menatap Lara masih terkejut karena ketika ia tengah menenangkan adik kecilnya, gadis itu malah naik keatas ranjang dan menarik gulingnya. Spontan Bisma segera melempar bantal kepangkuan Lara agar ia tak melihat apapun dari tubuh Lara yang terbuka. Bagaimanapun ia ingin tetap bersikap sopan dan menghargainya sebagai perempuan. “Tutupi pahamu!” ucap Bisma sambil berusaha duduk. “Ck! Udah deh, gak usah sok-sok gentleman! Ayo, anterin aku pulang! Kalau mau ngaceng atau gentleman di depan Fitri aja sana,” rengek Lara rewel sambil menarik kaos Bisma dibagian leher sehingga pria itu sedikit tercekik dan kembali terjerembab ke atas ranjang. Melihat wajah Lara yang cantik diatas wajahnya dengan rambut yang terurai setengah basah dengan perasaan tanpa rasa bersalah membuat Bisma gemas dan segera duduk. la mendorong tubuh Lara ke atas ranjang sehingga kali ini gadis itu yang berada di bawah tubuhnya dan menahan kedua tangan gadis itu di antara telinga. Ada rasa kecewa, marah dan penasaran di hati Bisma melihat sikap Lara yang tampak benar-benar tak tertarik padanya. Kini bibirnya sudah menempel dibibir Lara. Perlahan Bisma menciumi bibir Lara yang lembut dan halus. Jika ia bisa merasakan getaran ketika berciuman dengan Lara, apakah Lara tak bisa merasakan hal yang sama? Mereka berdua adalah manusia dewasa yang pasti memiliki hasrat. Bisma memejamkan matanya, ketika ia menikmati dirinya mencumbu Lara. Walau mereka berdua tak memiliki perasaan satu sama lain, tapi ia bisa merasakan hasratnya membuncah begitu besar membuatnya bergerak alamiah menikmati pelukan dan sentuhannya di tubuh Lara. “Mas! Ampun! Aku janji tak akan mengejekmu dengan Fitri lagi! Jangan mas! Aku takut!” Bisma membuka matanya perlahan dan melihat Lara yang menatapnya takut dengan tubuh gemetar dan mata yang hampir menangis. Tanpa sadar posisi tubuh mereka sudah seperti sepasang kekasih yang akan bercinta. “Maaf,” ucap Lara lirih dan terlihat air mata yang menetes di sudut matanya. Perlahan Bisma bangkit dari atas tubuh Lara dan duduk di sisi ranjang. Sedangkan Lara juga ikut mendudukan tubuhnya, sambil memasang kembali kaitan branya yang terlepas oleh satu jentikan jari tangan Bisma. Tak hanya Bisma yang merasakan birahi. Disentuh dan dicumbu Bisma dengan lembut dan penuh gairah membuat Lara lemas. Ia tak pernah merasakan hal itu sebelumnya tetapi ia menyadari apa yang terjadi. Ia ingin menghentikan semua sentuhan Bisma, entah mengapa ia merasa tak kuasa, tubuhnya terasa lemas tak berdaya sampai akhirnya ia bisa merasakan tubuh bagian bawah Bisma yang bergerak diatas tubuhnya membuatnya sadar apa yang bisa terjadi jika mereka tak berhenti. Lara pikir Bisma melakukan itu semua karena marah akan ucapan Lara yang mengejeknya terlalu kasar. “Maafkan aku,” bisik Bisma sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Lara hanya diam dan merapikan pakaiannya lalu segera menutupi pahanya dengan bantal. Ia benar-benar menyesal bersikap sembrono dihadapan Bisma. “Kamu tidak apa-apa?” tanya Bisma pelan sambil menatap Lara penuh penyesalan. Lara hanya menggelengkan kepalanya cepat lalu menatap Bisma dengan perasaan takut. “Aku mau pulang,” pinta Lara dengan suara lirih. Bisma mengangguk dan segera berdiri mengambil mantel panjang yang biasa ia gunakan saat berlibur ketika musim dingin dan memakaikannya pada Lara. “Ayo, pakai ini dan aku antar kamu pulang,” bisik Bisma sambil memeluk Lara sesaat, sedangkan Lara segera menutup dirinya rapat-rapat. Selama perjalanan pulang tak ada pembicaraan apapun dari keduanya. Mereka berdua hanya diam membisu seolah mencoba menenangkan perasaan mereka masing-masing. Sesampainya di halaman depan rumah Ajeng, Lara segera turun tanpa berpamitan pada Bisma. “Lara tunggu!” ucap Bisma mengejar Lara. Lara berhenti sesaat lalu hanya diam mematung ketika Bisma memeluknya. “Maafkan aku ya,” bisik Bisma lagi. Lara hanya diam dan segera melepaskan diri dari pelukan Bisma sebelum berlari ke dalam rumah meninggalkan pria itu berdiri canggung menatap Lara sampai tak terlihat lagi. *** Bisma berteriak sesaat setelah ia merasa tak sanggup lagi mengangkat beban. Minggu pagi ini ia telah menghabiskan waktunya di tempat Fitness untuk mengalihkan pikirannya yang merasa bersalah pada Lara karena sikapnya kemarin. Ia bahkan sampai tak bisa tidur karena merasa tak enak hati pada Lara. Ia sibuk menduga-duga apa yang akan Lara pikirkan tentang dirinya. Pria m***m? Itu sudah pasti. Entah mengapa ia merasa belum puas dengan permintaan maafnya kemarin, tetapi yang paling mengganggu pikirannya adalah sentuhannya di tubuh Lara benar-benar membuatnya gila karena mereka berdua benar-benar hampir bercinta. Bisma menyambar handphonenya dan segera menghubungi Lara. Sudah puluhan kali ia mencoba tapi Lara tak mengangkat panggilan darinya. Bisma tak pantang menyerah sampai akhirnya Lara mengangkat telepon dari Bisma. “Apa?!” tanya Lara tanpa kalimat sapa. “Dimana kamu?” tanya Bisma cepat. “KCIC. Aku mau pulang ke Bandung.” “Tunggu disitu! Aku kesana sekarang.” “Wooshku, 30 menit lagi boarding.” “Aku bilang tunggu disitu! Tunggu sampai aku datang! Awas kalau kamu sampai berangkat, akan aku laporkan apa yang kita lakukan kemarin ke Eyang Ajeng,” ancam Bisma sambil menyambar botol minumannya dan segera bergegas untuk membersihkan diri. “Cih! Pake ngancem! Kamu pikir yang berbuat itu hanya aku sendiri?! Dasar m***m!” “Tunggu aku. Aku mohon.” “Ck!” Lara memutuskan komunikasi. Entah mengapa, walau Lara tak menjawab ada perasaan yakin di hati Bisma bahwa gadis itu menunggunya. Bisma segera bergegas membersihkan dirinya dan membawa mobilnya melaju cepat menuju halim. Ada senyuman yang mengembang ketika ia melihat Lara tengah duduk termenung sedikit meringkuk sendirian diantara orang-orang. “Lara!” panggil Bisma sambil segera menghampiri Lara dan segera duduk disisi gadis itu. “Tiketku hangus! Ganti!” “Iya, aku ganti! Mana ktpmu? Sini aku pesankan,” ucap Bisma segera membuka handphonenya. Dengan malas Lara memberikan ktpnya dan dengan cekatan Bisma memesan tiket woosh untuk Lara. “Mau bicara apa? Singkat saja, 15 menit lagi aku harus sudah harus masuk,” ucap Lara datar sambil mengarahkan wajahnya ke arah lain. “Nanti saja kita bicara saat sudah duduk di dalam woosh,” jawab Bisma sambil menyandarkan tubuhnya. “Apa? Mas Bisma mau ikut ke Bandung? Ngapain?! Nggak boleh!” tolak Lara. Bisma tampak tak peduli, dan memamerkan barcode atas namanya yang sudah dia pesan. “Kita harus mulai bicara baik-baik Lara. Aku ingin mengenalmu,” gumam Bisma sambil mengelus rambut Lara sebelum ia mengacak-acaknya gemas. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN