“Mas! Kok kamu ada disini?! Kamu pulang gak sih sebenarnya?” keluh Lara ketika seseorang mengguncang tubuhnya dan saat ia membuka mata lagi-lagi ia melihat Bisma, padahal pria itu baru pulang jam 12 malam kemarin.
“Ck! Ayo bangun, kamu harus makan dulu sebelum minum obat,” ucap Bisma sambil menarik selimut Lara sedikit lalu sibuk menyiapkan bubur untuk Lara.
“Mas, kepalaku masih pusing, tubuhku rasanya rontok gak karuan, aku masih ingin tidur. Tinggalkan saja makanannya disitu,” ucap Lara kembali menutup matanya dan mencoba membalikan badan.
“Ayo bangun, kamu harus cepat pulih,” bujuk Bisma sambil menarik tubuh Lara agar menghadapnya.
“Mas! Aku belum sikat gigi! Kamu jangan dekat-dekat, ah!” ucap Lara sambil menutup mulutnya menggunakan selimut karena Bisma duduk di sisi ranjang dan begitu dekat dengan wajahnya, membuat jantung Lara berdegup begitu kencang.
Bisma hanya tersenyum dan mengacak-acak rambut Lara. Perlahan Lara bangkit dan duduk perlahan diatas ranjang. Pria ini tadi malam kembali datang pukul 10 malam lalu ia pulang pukul 12 seolah memastikan Lara sudah tidak demam dan tertidur nyenyak. Kini ia sudah kembali dan tampak rapi dengan pakaian kerjanya.
“Ayo basuh wajahmu,” suruh Bisma sambil menuangkan bubur.
“Aku masih ngantuk … iya! Aku cuci muka dan sikat gigi sekarang!” ucap Lara ketika Bisma tampak hendak mengecup bibirnya.
Gadis itu segera mendorong wajah Bisma agar menjauh dari wajahnya lalu dengan sedikit terhuyung-huyung ia berjalan menuju kamar mandi.
Bisma hanya tersenyum kecil menatap Lara dengan pandangan jahil. Tapi senyum itu berubah ketika ia teringat akan komunikasinya dengan Silvy yang kemarin malam menanyakan kondisi Lara.
“Lara sepertinya cukup terpukul sehingga ia sampai sakit. Tante sendiri, bagaimana kabarnya?” tanya Bisma merasa khawatir.
“Akh, bagaimana ya? Tante akan jelaskan jika kita bertemu nanti. Yang paling penting sekarang adalah Lara, gak usah pikirkan tante. Biar tante dan Om yang menyelesaikan masalah kami berdua ini.”
Bisma menghela nafas panjang, tak terbayang bagaimana hancurnya perasaan Silvy ketika ia mengetahui suaminya berselingkuh, tapi mendengar suaranya yang begitu tegar membuat Bisma merasa salut dan hormat.
Tak lama, Lara keluar dari kamar mandi dengan wajah yang basah. Ia terlihat sangat pucat dan lemas.
“Gak usah disuapin, aku bisa makan sendiri,” tolak Lara ketika Bisma menyodorkan sendok ke bibirnya.
“Ayo makan yang banyak,” ucap Bisma senang karena Lara sudah berusaha untuk menguatkan dirinya. Ia segera mengacak- acak rambut Lara tapi dalam hitungan detik ia langsung membersihkan tangannya.
“Rambut kamu berminyak banget! Keramas dong Lara!”
“Ck! Makanya tangannya jangan suka megang-megang. Aku kan lagi sakit mas! Mana boleh keramas lagi sakit begini?” jawab Lara tak peduli.
“Alesan aja! Nanti sore aku akan kembali dan ajak kamu untuk keramas di salon, kalau perlu kamu dimandikan sekalian. Aku takut, selama ini kamu mandinya gak bersih.”
“Nggak ah, aku malas!”
“Lara … kamu harus keluar kamar agar bisa menghirup udara segar, kali aja bisa menyegarkan pikiranmu juga.”
Lara tampak terdiam.
Melihat Lara, diam Bisma merasa serba salah karena ucapannya takut membuat Lara teringat kembali atas masalahnya dengan sang ayah.
“Aku gak berani untuk buka handphone,” ucap Lara perlahan.
“Hah?”
“Aku gak berani buka handphone karena takut dapat pesan dari papa atau mama. Aku takut dapat pesan dari papa karena takut hatiku merasa sakit membaca semua ucapan maafnya. Aku juga takut dapat pesan dari mama karena tak tahu harus bicara apa.”
“Hei, tenanglah … aku tahu ini tidak mudah, tetapi apapun yang terjadi kamu harus tenang menghadapinya,” ucap Bisma perlahan sambil menatap Lara dalam.
“Mas–”
“Ya?”
“Sebagai orang yang pernah bercerai, bagaimana rasanya? Apakah kamu sangat terluka dengan perpisahan itu?”
Pertanyaan Lara membuat Bisma sedikit tercekat.
“Hmm, iya … tapi tidak ada luka seperti luka yang terjadi pada orang tuamu. Perpisahanku karena kami tak sejalan saja, bukan karena salah satu berkhianat. Itu pun rasanya sakit sekali. Tak ada satupun di dunia ini yang berniat menikah untuk berpisah. Termasuk aku. Kenapa bertanya begitu?”
“Aku hanya menyiapkan diri dan hatiku untuk berpisah dengan papa,” jawab Lara pendek.
Bisma hanya diam dan menatap Lara dalam. Gadis itu menundukan wajahnya begitu dalam seolah memikirkan sesuatu.
Tiba-tiba Lara mengangkat wajahnya dan menatap Bisma dalam.
“Ohya, kenapa mas Bisma 2 hari ini menolong ku?”
“Hah?”
“Aku gak apa-apa kok mas, aku akan baik-baik saja. Kamu tak perlu menungguku seperti kemarin, jangan kasihan padaku.”
Bisma terdiam, entah mengapa kali ini ia tak memiliki jawaban untuk Lara. Kasihankah? Jika kasihan rasa tak juga, yang jelas ia merasa sangat cemas melihat kondisi Lara saat ini.
“Aku bukan kasihan padamu. Aku hanya ingin menemanimu, aku tak ingin kamu sendirian dalam kondisi saat ini.”
“Aku masih ada Irna yang menemaniku.”
“Semakin banyak teman semakin baik bukan?”
“Gak juga! Aku gak mau berteman banyak-banyak. Hampir semua tak bisa dipercaya,” gumam Lara pelan.
“Sudah, jangan pikir macam-macam. Tugasmu saat ini adalah kembali pulih sehingga kamu bisa menghadapi semuanya dengan baik,” ucap Bisma sambil mencubit pipi Lara lembut.
Lara hanya diam dan tak meneruskan makannya, ia malah kembali berbaring di ranjang.
“Lara, kamu harus minum obat mu dulu,” ucap Bisma sambil mengambil obat dan segelas air putih.
Lara memalingkan wajahnya.
“Lara, lihat aku,” ucap Bisma tiba-tiba.
Lara menoleh dan melihat Bisma tengah menggigit setengah obat, lalu mendorong obat itu dengan bibirnya ke mulut Lara.
Lara terkesiap tak siap, tapi belum sempat ia sadar Bisma sudah menyodorkan gelas untuk membantu Lara menelan obatnya.
“Ck! Dasar m***m!” gumam Lara sebal.
“Lumayan dapat ciuman dari perempuan yang rambutnya bau!”
Lara hanya diam dan kembali melorotkan tubuhnya untuk berbaring dan segera menyembunyikan tubuhnya di dalam selimut. Bisma merapikan selimut Lara, dan menatap gadis itu dalam.
Curian ciuman tadi membuat jantungnya berdetak begitu cepat. Entah mengapa spontan ia iseng melakukannya pada Lara.
“Nanti sore aku kembali ya, jangan lupa kita ada kencan,” bisik Bisma sebelum ia bersiap meninggalkan Lara.
“Nyalon, bukan kencan,” balas Lara perlahan.
“Aku pergi dulu,” bisik Bisma.
“Aku kunci kamarnya ya mas.”
“Awas kalau berani!”
“Aku bilang Fitri ah, kalau seling….”
Cup!
Lara terdiam. Lagi-lagi Bisma mencuri ciuman dari bibirnya.
“Ih! Kebiasaan! Bibirku jadi murah sekarang sering kena sosor!” keluh Lara sambil menghapus bekas kecupan Bisma.
Lara menahan nafasnya ketika melihat Bisma tersenyum lembut menatapnya. Untuk apa pria menyebalkan itu tersenyum seperti itu?! Dia pikir aku akan luluh apa? Pikir Lara.
Tak ada kata yang keluar dari keduanya. Hanya kalimat pamit dari Bisma yang membuat Lara diam mengusap dadanya yang berdebar.
Bersambung.