Bab 8. Tentang Lara

1764 Kata
“Sepertinya ia melihat kita.” Ega tampak termenung melihat pesan yang masuk di handphonenya dari Frida. Iparnya itu baru saya memberitahu bahwa ia baru saja menghapus rekaman cctv yang menunjukan pertemuan mereka berdua dan Frida melihat sosok Lara dibelakang mereka tanpa mereka sadari. Ega menghela nafas panjang dan segera menghapus pesan dari Frida. Akhirnya terungkap sudah mengapa sikap Lara menjadi begitu dingin padanya. Memiliki anak perempuan dan satu -satunya membuat Ega dan Silvy sangat menyayangi Lara dan mereka bertiga menjadi sangat dekat satu sama lain. Jika benar Lara melihatnya bersama Frida, tentu anak gadisnya akan sangat terpukul dan terluka. Bayangan kejadian 28 tahun yang lalu kembali terbayang dibenak Ega. Saat itu ia baru saja pulang dari Australia setelah menyelesaikan sekolahnya dan juga karena kematian kakaknya yang juga suami Frida. Entah karena terbawa suasana, di dalam rumah besar yang sepi itu membuat Ega dan Frida menjadi dekat satu sama lain. Tak hanya sekedar dekat tetapi mereka juga berbagi perasaan dan nafsu. Hanya saja hubungan itu harus terhenti karena Ajeng mengetahui hubungan mereka dan menentangnya. Ega memilih pergi dan kembali bertemu Silvy mantan kekasihnya dulu. Sedangkan Frida tetap tinggal walau ia bisa pergi sebenarnya dari rumah itu. Menjadi yatim piatu dan tak memiliki keluarga membuatnya bertahan karena kasih sayang Ajeng juga keluarganya. Tentu saja, di dalam hatinya ia masih mengharapkan Ega. Tapi waktu terus berlalu, Ega sudah bahagia dengan keluarga kecilnya, walau berasal dari keluarga mapan, tapi tak menjadi dirinya sukses seperti kakaknya yang lain sehingga ia cukup puas dengan menjadi karyawan disebuah perusahaan. Toh, jika ia kesulitan keuangan ada sang ibu yang akan membantu, walau begitu ia memilih untuk menikmati hidupnya yang sederhana bersama Silvy dan Lara. Entah apa yang terjadi kemarin, di hari ulang tahun ibunya. Entah celah mana yang setan pergunakan sehingga ia memiliki kesempatan bersama dengan Frida berdua saja. Setelah puluhan tahun mereka bersikap sewajarnya sebagai ipar, akhirnya hancur karena nafsu satu malam. Mereka sepakat bahwa mereka hanya khilaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Ternyata kini ada saksi yang melihat kesalahan dan dosa mereka. Dan saksi itu adalah Lara. Ega mencoba menghubungi Lara, tapi gadis itu tak pernah mau mengangkat telepon darinya. “Telepon siapa mas?” tanya Silvy saat melihat suaminya duduk sambil terus mencoba menghubungi seseorang. “Lara! Gimana sih anak itu?! Sekarang susah sekali dihubungi!” gerutu Ega yang merasa rindu dan bersalah pada Lara. “Masa? Tadi pagi baru saja dia menghubungiku dan bertukar kabar,” jawab Silvy sambil membuatkan sarapan untuk suaminya. “Suruh dia pulang.” “Hah?” “Weekend ini suruh dia pulang! Sudah hampir satu bulan dia tidak pulang kerumah,” ucap Ega perlahan lalu berdiri meninggalkan istrinya sendiri. *** “s**t!” gerutu Bisma sambil menyentuh bibir bagian bawahnya yang bengkak dan tampak ada bekas luka yang mengering sambil bercermin. Setiap merasakan sakit di bibirnya bayangan Lara yang menggigit bibirnya dengan buas kembali membayangi benaknya. Bisma menoleh kearah baju kotor yang tadi ia kenakan untuk bermain padel dan segera mengambilnya untuk dimasukan ke dalam keranjang pakaian kotor. Semilir wangi kembali tercium menggelitik penciuman Bisma. Wangi harum tipis dari pakaiannya. Wangi parfum Lara yang menempel saat gadis itu menggigit bibirnya hanya untuk bisa membuka pintu mobil. Ck! Decak Bisma kesal. Tiba-tiba saja ia teringat gadis itu terus. Rasanya ia ingin marah tapi tiba-tiba kemarahannya mereda saat menyadari Lara menangis ketika mencium bibirnya. Bisma tertegun sesaat dan kembali teringat ucapan ibunya Laila. Mungkinkah ia salah menilai Lara? Bisma segera menepis pikirannya sendiri dan kembali merapikan dirinya. Sore ini ia akan pergi bersenang- senang dengan beberapa temannya. Apalagi Ringgo salah satu sahabatnya akan mengenalkan Bisma pada seorang wanita yang sudah lama meliriknya sebagai Duda muda yang tampan juga mapan. Selesai bersiap Bisma segera memasuki mobilnya untuk segera pergi. Tetapi lagi - lagi aroma parfum lembut Lara kembali tercium di dalam mobilnya. “Akh, dia pake parfum apa sih?! Kok nempel terus! Sial!” gerutu Bisma kembali diingatkan oleh sosok Lara. Raut wajahnya tampak tidak senang karena ingatannya pada gadis itu merusak moodnya. Sedangkan di tempat lain Lara tengah duduk termenung sambil menatap jendela kamar kecil kost - an sahabat karibnya– Irna. Mata gadis itu terlihat sembab karena habis menangis. “Aku sudah bicara sama bapak kost, katanya bulan depan akan ada kamar kosong. Kamu bisa segera pindah ke kost an ini. Kalau kamu mau kamu bisa tinggal bersamaku selama satu bulan ini sampai kamar untukmu kosong,” ucap Irna yang baru saja masuk ke dalam kamarnya. “Gak usah, aku bisa bertahan sampai satu bulan lagi,” gumam Lara perlahan. “Sialan memang isi rumahmu itu! Terus terang aku benar-benar terkejut Om Ega bisa melakukan hal seperti itu, padahal aku mengenal kalian tidak satu dua tahun, tapi kita besar bersama! Belum lagi si Fitri si munafik palsu itu!” caci Irna yang merasa marah saat mendengar cerita Lara tentang rahasia keluarganya. “Stt, tolong jangan bilang apapun pada kedua orang tuamu ya Ir. Bagaimanapun mereka dekat,” ucap Lara setengah memohon agar Irna tak menceritakan apapun pada orang tuanya karena orang tua mereka bersahabat. “Aku tuh selalu melihat keluarga kamu sebagai keluarga ideal! Setiap orang tuaku bertengkar aku selalu bilang menyelesaikan masalah mereka seperti papa dan mamamu menyelesaikan masalah! Gak cuma kamu yang kecewa! Aku juga! Apapun alasannya Om Ega gak bisa tuh gandengan tangan sama iparnya sendiri!” Lara hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain, di dalam hatinya ia merasa sedikit menyesal telah menceritakan aib keluarganya pada Irna. Walau mereka bersahabat, ada rasa malu ketika mendengar Irna mencaci ayahnya, tapi saat ini ia butuh teman untuk berkeluh kesah, dan Irna adalah satu satunya sahabat yang bisa ia percaya. Benarkah? Lara menatap Irna yang masih mengoceh tentang kisah hidup Lara. Sejak kejadian Robin yang berselingkuh dengan sahabat karibnya Tineke, Lara benar-benar rasanya tak ingin bersahabat dengan siapapun. Tak hanya sahabat, tapi banyak temannya yang berhasil mencuri pria yang menjadi dambaan hati Lara. Rasanya Lara membenci dirinya sendiri yang selalu menjadi orang yang disalip perasaannya oleh orang lain. Semua orang bilang dirinya cantik, banyak sekali pria yang mendekatinya untuk dijadikan kekasih, tetapi mengapa ketika ia mencintai seseorang, mereka selalu pergi atau mencintai wanita lain. Apa gunanya cantik dan dikagumi banyak pria jika dicintai satu pria saja secara utuh ia tak bisa. Kini tak hanya dambaan hatinya yang kecantol wanita lain, tetapi ayahnya juga. Rasanya Lara tak bisa percaya lagi pada sosok yang bernama pria. “Sudah sore, sebaiknya aku pulang,” ucap Lara lirih sambil mencoba melenturkan tubuhnya yang terasa kaku. “Kamu yakin? Gak mau menginap disini dulu sampai perasaanmu tenang?”tanya Irna kasihan melihat Lara. Lara mengangguk pasti, dan tersenyum pada Irna. “Terimakasih ya sudah mau mendengarkan aku hari ini, aku pulang,” pamit Lara. Gadis itu segera memesan taksi online dan tak lama kemudian ia sudah berada di jalanan Jakarta di hari Minggu sore. Sesampainya di rumah Lara hanya bisa mendesah panjang. Rumah besar ini sangat sepi. Yang ramai hanyalah bagian belakang rumah dimana asisten rumah tangga mereka tinggal. Sedangkan penghuni aslinya semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Begitu pula Ajeng. Di usia senjanya ia masih banyak beraktivitas, bahkan mungkin bisa lebih sibuk daripada Lara yang jauh lebih muda. Lara berjalan menuju sisi utama lain dari rumah utama. Dimana bagian itu hanya dirinya dan Frida saja yang tinggal disana. Sedangkan Fitri tinggal bersama ibunya Wita di paviliun belakang, dengan fasilitas yang sama karena telah dianggap cucu Ajeng. Sisi rumah itu selain kamar hanya ada ruang keluarga yang besar juga perpustakaan. Di sudut koridor ada ruangan kecil yang cantik dengan jendela kaca yang besar agar bisa menatap kearah halaman belakang yang terdiri dari taman dan kolam renang. Tempat itu juga tempat persembunyian Lara jika ia tengah bosan di dalam kamarnya. “Assalamualaikum,” ucap Lara memberi salam ketika masuk ke ruang keluarga, walau ia tahu tak akan ada siapapun disana. “Waalaikumsalam.” Balasan sapaan itu membuat Lara hampir melompat karena terkejut dan menoleh ke arah suara bariton yang didengarnya. Disana ada Bisma yang tengah duduk dengan santai di sofa sambil merentangkan kedua tangannya di sandaran sofa menatap Lara tajam. Cangkir yang sudah kosong di hadapannya menunjukan bahwa pria ini sudah berada disana cukup lama. Ia tak menyangka akan bertemu Bisma sampai dua kali dihari yang sama. “Sedang apa disini?! “ tanya Lara ketus karena kaget melihat Bisma. Sedangkan Bisma hanya tersenyum kecil dengan pandangan tajam ketika ditanya Lara. “Kalau mas Bisma mau ketemu Eyang dan Fitri, mereka tidak tinggal di area ini. Sana kedepan, tunggu saja disana. Disini area privacy keluarga!” usir Lara cepat. “Ck! Kamu pikir siapa yang suruh menunggu disini? Tentu saja Eyang Ajeng dan tante Frida,” ejek Bisma sambil tertawa kecil. “Terserah mas Bisma, tunggu saja Fitri disini sampai bosan.” “Siapa bilang aku menunggu Fitri? Aku menunggumu,” gumam Bisma dalam dan terdengar oleh Lara. Lara terdiam mencoba mencari tahu alasan mengapa Bisma menunggunya. “Bibirku sakit dan bengkak, dan ada seseorang yang harus bertanggung jawab untuk perbuatannya. An Eye for an Eye.” Mendengar ucapan Bisma, Lara diam membisu. Melihat pria itu mengerutkan bibirnya seperti memberikan ciuman dari jauh membuat Lara bergerak mundur dan segera berlari menuju kamarnya. Ternyata Bisma bisa membaca niat Lara, dengan cepat pria itu berdiri dan berlari mengejar Lara lalu menahan pintu kamar gadis itu dan segera masuk ke dalamnya. “Keluar!” usir Lara merasa takut dengan sikap Bisma yang segera mengunci pintu kamar. Bisma hanya diam dan mendekati Lara perlahan sebelum akhirnya ia menarik gadis itu dan melumat bibir Lara lalu menggigit bagian atas bibir Lara. Walau tidak keras tetapi tetap membuat Lara menjerit kesakitan. Sebuah tamparan mendarat keras di pipi Bisma. “Dasar kurang ajar!” pekik Lara marah tampak terengah - engah sambil menjauhi Bisma. “Siapa yang kurang ajar? Aku atau kamu? Aku hanya membalas apa yang kamu lakukan padaku!” ucap Bisma dengan nafas terengah engah. Perempuan di hadapannya telah berhasil membuka pintu gairah yang selama ini ia tahan. Bisma segera menyambar tas kecil yang dikenakan Lara tadi lalu mengambil handphone gadis itu dan memaksa Lara untuk memberikan fingerprintnya. Dengan cepat Bisma menekan nomor contact lalu dalam hitungan detik ia bisa merasakan handphonenya sendiri bergetar dan terlihat ada misscall dari handphone Lara. “Simpan nomorku. Angkat kalau aku menghubungi,” ucap Bisma sambil menyimpan nomor kontak Lara. Sedangkan Lara hanya diam sambil mengusap bibirnya yang terasa sakit karena digigit dengan kasar dan menatap Bisma penuh kebencian. “Keluar dari kamarku!” usir Lara segera membuka kunci dan pintu lalu mendorong Bisma yang bertubuh tinggi agar keluar dari kamarnya. Bisma yang tidak siap, segera terdorong dan kini yang ia terima hanyalah bantingan pintu kamar Lara. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN