Badai akhirnya datang. Sama seperti badai yang saat ini bergejolak di dalam da.da Jenna. Di kamar lantai atas, tempat mereka diberi waktu untuk mempersiapkan diri. Di bawah lilin-lilin yang dinyalakan, menampilkan cahaya kekuningan yang memberi nuansa intim, serta merta aroma dari hujan yang datang di luar. Telah bercampur aduk menjadi sesuatu yang membingungkan. Jenna berdiri di dekat ranjang, bertelanjang kaki, tubuhnya yang terasa remuk kini sudah bersih karena mandi air hangat yang diberikan Deborah. Ia mengenakan gaun tidur katun sederhana berwarna putih gading dengan renda tipis di bagian kerah, pemberian sang nyonya rumah. Sementara itu rambut hazelnya yang masih lembap jatuh terurai di bahu, membingkai wajah yang sebelumnya merona merah karena amarah yang meluap-luap. Di se

