Rahang Dalton mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Kata-kata Jenna yang tajam dan manis itu menghunjam tepat di pusat egonya. Ia sangat ingin marah, ingin membungkam mulut wanita itu dengan cara yang paling kasar, namun ia tertegun oleh binar kemenangan yang terpancar dari mata hazel Jenna. "Kau...." Dalton mendesis, tangannya yang tadi mengusap dagu Jenna kini mencengkeram rahang wanita itu dengan tekanan yang sangat kuat. "Kau pikir kau akan menang hanya karena aku membutuhkan tubuhmu? Jenna, ada begitu banyak wanita di dunia ini. Aku bisa membuangmu kapan pun aku mau." Jenna tersenyum kecil, senyuman yang sangat memprovokasi. "Aku tidak bilang aku akan menang, Dalton. Aku hanya sedikit merasa kasihan dengan gadis sucimu itu. Dia memiliki hatimu, tapi dia tidak pern

