BAB 75: Pertemuan Dua Darah Suara gesekan besi yang beradu dengan lantai batu terdengar seperti lonceng kematian di ruang bawah tanah yang sempit itu. Ghara menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang berpacu liar. Ia berdiri di sudut paling gelap, di balik tumpukan peti-peti kayu yang lapuk, bayangannya menyatu dengan dinding batu yang lembap. Pisau lipat taktis milik Aisyah terasa panas di genggamannya, seolah-olah arwah istrinya itu ikut menyalurkan energi melalui bilah baja tersebut. Fathimah berdiri tepat di tengah ruangan, di bawah satu-satunya lampu pijar yang berkedip-kedip. Ia tidak lagi gemetar. Ia telah menanggalkan rasa takutnya di sudut bunker. Ia sengaja melepas jilbabnya, membiarkan rambut panjangnya terurai menutupi bahu—sebuah upaya untuk memperkuat

