Matahari sudah terbit dan sedikit meninggi, Akira melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi tapi Chiko masih belum mau melepaskan pelukannya. Akira sudah meronta-ronta nyaris berteriak karena tidak enak bangun kesiangan di rumah mertuanya, tapi suaminya yang cemburuan itu tidak bergeming sedikitpun. “Mas ihh, nggak enak sama bunda nggak bantuin di dapur.” Rengeknya, Chiko semakin mengeratkan pelukannya tanpa megeluarkan sepatah katapun. Aroma Akira selalu membuatnya tidak ingin melepaskannya. Apalagi memeluknya sekarang lebih terasa nyaman karena tubuh Akira mulai berisi. “Mas. Kalau aku nggak di lepasin juga aku teriak nih. Aku aduin ke ayah, mas Chiko nakal.” Ancam Akira kesal. “Aduin aja aku nggak takut.” Balas Chiko dengan suara khas bangun tidurnya. “Mas ihh, lagian

