Pintu kamar hotel tertutup perlahan di belakang mereka. Suara klik kunci terdengar jelas di telinga Clara. Clara berdiri beberapa langkah di belakang Jevian, matanya langsung tertuju pada seluruh ruangan. Lampu kamar dibuat sedikit redup, tirai tebal menutup jendela, dan hampir di setiap sudut kamar dipenuhi kelopak mawar merah. Di atas ranjang besar, kain putih dibentuk rapi dengan taburan bunga yang sama. Clara menelan ludah. Pipinya langsung memerah. “Ini…” Clara berhenti bicara sejenak, “…ini kamar kita?” Jevian menoleh, melihat ekspresi Clara yang canggung dan jelas gugup. “Iya.” Clara menggeser langkah pelan, mendekati ranjang. Tangannya terangkat, ragu menyentuh kelopak mawar. “Banyak sekali bunganya,” ucapnya lirih. Jevian berdiri beberapa langkah darinya. “Hotel yang meny

