Pagi itu, rumah keluarga Jevian dipenuhi ketegangan. Briana berjalan mondar-mandir di ruang tengah sambil menggeram marah. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini sedikit berantakan karena ia menariknya sendiri berulang kali. Suasana rumah sangat sunyi kecuali suara langkah keras sepatu Briana di lantai marmer. “Anak itu benar-benar keterlaluan! Sudah pagi begini, dia belum pulang juga! Apa dia pikir rumah ini hotel?!” teriak Briana sambil memukul meja. Jeremy, yang sedang membaca koran dan menikmati kopi paginya, hanya bisa menghela napas panjang. Ia menurunkan koran pelan-pelan lalu menatap istrinya. “Briana… bisa tidak kamu duduk dulu? Kamu teriak dari tadi,” ujar Jeremy dengan nada yang berusaha tetap tenang. Briana menoleh tajam. “Aku nggak bisa tenang! Putra kita itu tidur di

