“A-Apa?” “Arsenio, seharusnya menjadi milik putriku. Bukan kau, Mikayla. Lucu sekali, kau tak pantas disandingkan dengan Mesya!” Nada suara Eliza penuh penghinaan. “Mesya? Kau gila, Nyonya! Hentikan omong kosongmu! Aku bukan putrimu atau siapapun!” teriak Mikayla, rasa ngeri membuat amarahnya semakin menjadi-jadi. Ia mundur selangkah lagi, semakin mendekati mobil. Eliza melangkah mendekat dengan cepat, kembali mengunci Mikayla. Wajahnya kini tidak lagi tersenyum, hanya menyisakan ekspresi sinis yang dingin dan tajam. “Suka tidak suka, benci tidak benci, Mikayla, aku memang ibumu,” ucap Eliza, menekankan setiap kata. “Dengarkan baik-baik, aku tidak suka mengakui hal ini. Aku meninggalkanmu—benar-benar membuangmu—karena saat itu, aku sedang hamil Mesya.” Mikayla terdiam, otaknya gagal m

