Pagi itu, yang seharusnya dipenuhi investigasi dan konfrontasi, Mikayla memilih menguncinya dengan gairah. Ranjang itu menjadi medan perangnya. Selimut itu menjadi benteng pertahanannya. Arsenio mengangkat tubuh Mikayla, memposisikannya di atas tubuhnya. Mikayla mendesah berat saat posisi itu membuat gairahnya melonjak. Ia tahu ia sedang memanfaatkan suaminya, tetapi ini adalah satu-satunya cara untuk memberinya waktu. Waktu untuk menganalisis rekaman Mesya dan merencanakan langkah selanjutnya. "Mikayla," Arsenio mengerang di sela ciuman mereka. "Aku butuh kamu, Hubby," desah Mikayla, menggunakan nada paling memohon yang ia miliki. Mereka kembali jatuh dalam gairah yang membara. Suara napas, erangan, dan desahan mereka mengisi kamar, menenggelamkan semua suara jeritan dan ketidakpastia

