Mikayla keluar dari toilet dengan langkah goyah, menunduk, dan menahan napas agar tidak terlihat terlalu mencolok. Ia memeluk tas kecil di dadanya, mencoba menutupi sobekan pada kemejanya yang kini hanya tersisa di pinggang, sementara kaus putih tipis yang ia kenakan di baliknya menempel lembap di kulit. Arsenio yang sedang berdiri di depan toko perhiasan langsung menoleh. Alisnya mengerut tajam saat melihat Mikayla mendekat. “Kenapa lama sekali?” suaranya datar, tapi matanya menelisik. Pandangan pria itu turun perlahan dari wajah Mikayla ke tubuhnya. Ia melihat kemeja yang kusut, ujung yang tak rapi, dan kaus yang tampak berbeda dari sebelumnya. “Aku… terpeleset di toilet,” jawab Mikayla terbata, memaksa senyum kecil yang bahkan tak sampai ke matanya. “Air di lantainya banyak sekali.”

