133 - Menghargai

2229 Kata

Yovelyn yang baru pulang jalan-jalan melihat kakek dan neneknya di dalam rumah. Langsung berlari mendekati mereka dengan senyuman lebarnya, dia tidak menyangka kalau kakek dan neneknya ada di sini. "Nenek! Kakek!" Teriak Yovelyn duduk di tengah-tengah Nenek dan Kakek. Ningsih dan Herman tertawa kecil, memeluk cucu mereka yang imut ini. Beda dengan Felix, tidak suka dipeluk dan dicium. Katanya dia sudah besar. Tidak boleh dilakukan seperti itu. Malu katanya. "Kamu udah siap jalan-jalannya?" Tanya Ningsih. Yovelyn mengangguk. "Sudah Nek. Itu Nenek Arini dan Kakek Hendra udah beliin banyak banget barang!" Tunjuk Yovelyn, ke barang-barang yang dibeli olehnya, pakai uang Kakek dan Neneknya. Ningsih dan Herman melihat itu tersenyum. Dan keduanya melihat Arini bersama Hendra masuk ke dalam r

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN