Bab 21. Vonis DNA

1336 Kata

Pagi itu, sinar matahari menerobos celah gorden apartemen Gwiyomi, menciptakan garis-garis emas di atas sprei abu-abu yang berantakan. Gavin mengerjap, merasakan beban yang terangkat dari pundaknya setelah tidur paling nyenyak dalam tiga tahun terakhir. Ia meraba sisi tempat tidurnya, namun hampa. Hanya ada sisa kehangatan dan aroma mawar yang tertinggal. Gwiyomi sudah bangun. Gavin meraih ponselnya di nakas. Layarnya menyala, menampilkan puluhan panggilan tidak terjawab dan rentetan pesan dari Vanka. Gavin hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Ia memilih untuk mengabaikan semuanya, seolah dunia di luar sana tidak lagi penting baginya selama ia berada di dalam empat dinding ini. Tepat saat itu, ponselnya bergetar lagi. Nama Vanka berkedip di layar. Gavin menghela napas panjang, akhirn

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN