Bab 1. Nikmati Aku, Gavin!

1101 Kata
Jakarta sedang diguyur hujan yang deras ketika Gwiyomi masuk ke dalam sebuah kamar Hotel yang begitu sunyi. Ia melangkah dengan sangat pelan nyaris tanpa suara, berjalan menuju tempat dimana sosok pria sedang berdiri tegak menikmati rokok sembari menatap pemandangan kota. “Kamu datang, Gwi?” Suara bariton itu terdengar memecah kesunyian. Gwiyomi tersenyum tipis, menghentikan langkah lalu bersandar pada daun pintu. Jemarinya yang lentik memainkan ujung piyama yang hanya sebatas setengah pinggulnya saja. “Malam ini terakhir kalinya aku bisa memandangmu dengan perasaan yang sama, Gavin. Mana mungkin aku melewatkannya?” Ia menyahut, rendah suaranya berhasil membuat pria yang dipanggil Gavin itu menoleh. Ada sorot mana keterkejutan di mata Gavin mendapati Gwiyomi begitu seksi malam ini. Jelas saja ia terkejut, selama ini Gwiyomi yang dikenal adalah Gwiyomi yang memakai kemeja dengan rok panjangnya yang membosankan. Untuk wajah dia memang cantik, tapi penampilannya kurang menggairahkan bagi Gavin. Namun, malam ini Gavin justru disuguhkan pemandangan yang meruntuhkan iman. Gwiyomi memakai piyama berenda warna putih yang mengekspos tubuh sintalnya, d**a kenyal itu seperti sudah memanggil-manggil Gavin untuk untuk disesap nikmat. “Apa ini, Gwi?” Gavin mematikan rokok, melangkah mendekat layaknya binatang yang buas. Gwiyomi menarik sudut bibir, ia ikut melangkah dengan gerakan sangat menggoda. Begitu sampai di depan Gavin ia mengalungkan kedua tangannya pada leher pria itu dan memaksanya menunduk. “Hadiah untuk pernikahanmu,” jawab Gwiyomi lembut sekali, tangannya bergerak nakal mengusap rahang Gavin lalu berhenti pada jakunnya. “Akan aku berikan apa yang selama ini kamu inginkan saat kita pacaran.” Kemudian ia meraih tangan Gavin untuk menyentuh dadanya sendiri. “s**t!” Gavin mengumpat kasar, bukannya langsung menerima ia justru mendorong Gwiyomi hingga terjengkang di ranjang dengan keras. Gwiyomi tersentak kaget, alih-alih takut ia justru tersenyum puas. Saat Gavin akan menunduk ia segera mengulurkan kaki, menahan d**a pria itu. “Kamu tidak akan bisa menolaknya, Gavin.” Gavin melirik ke arah kaki mulus Gwiyomi, perlahan ia mengusapnya lembut. Gerakannya sangat sensual lalu menurunkan kaki Gwiyomi, ia tidak berhenti justru membalikkan keadaan dengan menarik pinggang Gwiyomi hingga wanita itu terduduk di pangkuannya. “Akh!” Gwiyomi memekik kaget, matanya membulat tetapi senyum manisnya masih tersungging. “Kamu sadar apa yang kamu lakukan ini?” Gavin mengeram rendah, ia menunduk mengecup lembut leher Gwiyomi dengan bibirnya yang basah. “Aku besok menikah, Gwiyomi.” Gwiyomi tersenyum getir mendengarnya, tetapi yang keluar justru desahan nakal. “Karena itulah aku datang, Gavin.” Gavin mendongak, menunggu apa yang ingin Gwiyomi katakan lagi. “Aku datang untuk menyerahkan semuanya. Termasuk kesucianku padamu,” lanjutnya lagi tanpa keraguan. “Dan kamu berniat menjadikan kita pendosa dengan melakukan ini?” Gwiyomi terkekeh-kekeh rendah, diraihnya dagu Gavin lembut. “Jika memang begitu, jadilah pendosa bersamaku. Malam ini, nikmati aku Gavin. Buat aku lupa jika pernah punya perasaan ini padamu …” Tanpa rasa malu Gwiyomi menunduk, menyesap lembut bibir Gavin dengan penuh gairah. Mata Gavin terpejam dengan kedua tangan yang mencengkram pinggul Gwiyomi dengan kuat. Ia masih berusaha menjaga kewarasan namun Gwiyomi hafal akan kelemahannya, wanita itu bergerak-gerak menggoda membuat Gavin tak kuat dengan hasrat yang naik pesat. “Sialan kamu, Gwi. Jangan harap aku berhenti sebelum kamu menangis ampun.” Gavin memberikan serangan balik, mengungkung Gwiyomi dibawahnya dan menekan kedua tangannya ke atas. Ia mencium Gwiyomi dengan beringas dan tanpa keraguan, seolah-olah pernikahan besok hanyalah sebuah panggung sandiwara yang tak ada gunanya. “Ahh iya Gavin … nikmati malam kita,” desah Gwiyomi. Namun, tanpa siapa pun tahu dibalik desah dan godaan itu Gwiyomi menahan kesedihan yang luar biasa. Ia menikmati sentuhan Gavin bahkan rela dirinya dirobek paksa, tetapi jauh di lubuk hatinya kebencian itu begitu kuat. “Sentuh aku terus, Gavin. Sentuh aku agar kamu ingat jika hanya tubuhku ini yang bisa memuaskanmu. Hadiah ini harus kamu ingat dalam setiap helaan napasmu,” batin Gwiyomi seiring rasa sakit yang menghujam ketika darah kesucian itu pecah dibawah kendali Gavin. *** “Saya belum berhasil mendapatkan kabar apa pun tentang Nona Gwiyomi, Pak.” Gavin membanting berkas yang tadinya dipegang tepat ke atas meja saat laporan itu terdengar. Mata gelapnya berkilat-kilat menandakan ada amarah yang sedang ditahan. Ia menarik jas yang dikenakan dengan kasar seolah itu juga bentuk pelampiasan. “b*****h! Kemana sebenarnya wanita itu, s**t!” Gavin mengumpat kasar, kepala pun rasanya ingin sekali pecah. Tiga tahun telah berlalu setelah malam panasnya dengan Gwiyomi, selama tiga tahun juga pernikahannya terasa sangat hambar. Gavin sendiri tak mengerti, kenapa ia bisa begitu gila sampai mau menerima hadiah yang diberikan Gwiyomi. Tadinya ia pun berpikir akan mudah lupa, seperti para wanita lain. Namun, setiap saat ia menggauli istrinya yang terbayang justru mata sendu Gwiyomi. “Hanya ada laporan terakhir jika Nona Gwiyomi pergi ke Singapura. Pak Gavin mungkin ingin mencarinya ke sana,” usul Bram—asisten Gavin. “Jangan gila kamu!” bentak Gavin mendengus. “Aku tidak bisa pulang terlambat apalagi bepergian tanpa Vanka. Jangan bikin rumit,” lanjutnya memijat kepala pening. “Saya hanya memberikan usul, Pak.” “Usul yang tidak berguna.” Gavin kembali mendengus, mulai memejamkan mata untuk membuang pikiran tentang Gwiyomi. Bangsatnya setelah mata terpejam justru wajah Gwiyomi yang hadir. “Kamu benar-benar berhasil menyiksaku, Gwi.” Ia berteriak dalam hati, terjebak pada penjara yang entah disebut apa. Baru saja Gavin merasa tenang, ponselnya berdering keras. Ia sudah tahu siapa yang menelpon sehingga langsung mengangkatnya. “Katakan.” “Kenapa dingin sekali, Babe? Ih padahal aku baru mau cerita. Hari ini aku baru saja membeli …” Itu suara Vanka—istrinya yang mulai menceritakan tentang aktivitas hariannya yang hanya menghabiskan uang. Gavin melempar ponsel itu ke meja dan hanya menyahut dengan gumaman tak jelas. “Pokoknya kamu harus cepat pulang, Beib. Kamu harus lihat gaun yang aku beli. Sekalian persiapan untuk ke acara ulang tahun Kak Frans.” “Frans?” Gavin mengernyit. “Bukannya Frans masih di luar negeri?” “Dia baru pulang, beib. Kamu tahu nggak, dia bawa calon istri.” Vanka menyahut dengan semangat. Lagi-lagi Gavin mengernyit. Frans adalah sepupunya, sudah cukup lama Frans ke luar negeri. Sekarang tiba-tiba kembali dan ingin membawa calon istri. “Kemajuan pesat, aku pasti datang,” sahut Gavin singkat. “Harus Beib, kamu harus datang. Aku sangat penasaran siapa yang bisa meluluhkan hati sepupumu yang mempesona itu.” Gavin hanya melirik malas tanpa menjawab, ia justru mematikan ponselnya tanpa permisi. Sudah terlalu bosan mendengar ocehan Vanka yang sama sekali tak bermutu. Anak manja yang hanya bisa merepotkan, berbeda sekali dengan … “Sial! Gwiyomi … jika aku bertemu denganmu, aku pastikan kamu tidak akan bisa lari lagi,” umpatnya seolah janji yang harus ditepati. Happy Reading TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN