Cahaya fajar menyentuh lantai kayu apartemen, memantul di antara sisa-sisa pecahan kristal yang sudah dirapikan Gavin semalam. Di atas ranjang, Gwiyomi masih betah bersembunyi di balik d**a bidang Gavin. Ia tidak tidur, ia hanya sedang menghitung detak jantung pria itu, sebuah ritme yang dulu selalu menjadi pengantar tidurnya. Gavin terbangun, namun ia tidak membuka suara. Ia hanya mempererat pelukannya, mencium puncak kepala Gwiyomi berkali-kali seolah sedang memastikan bahwa wanita ini benar-benar nyata, bukan sekadar residu mimpinya yang menyakitkan. "Gavin..." panggil Gwi lirih, suaranya teredam di balik kemeja Gavin. "Hmm?" "Kenapa kamu tidak pergi saat ponselmu bergetar semalam? Kamu tahu itu dari siapa, kan?" Gavin terdiam sejenak. Ia menarik napas dalam, membiarkan aroma rambu

